JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Bagi pengguna ponsel era 2000-an, nama LG tentu tidak asing. Perusahaan teknologi asal Korea Selatan itu pernah menjadi salah satu pemain besar di industri smartphone global dengan sejumlah produk yang mencuri perhatian.
Salah satu produk ikonik LG adalah LG Prada yang diperkenalkan pada 2006. Ponsel tersebut dikenal sebagai salah satu perangkat pertama yang menggunakan layar sentuh kapasitif (capacitive touchscreen), teknologi yang kemudian menjadi standar pada smartphone modern.
LG juga sempat mencatat kesuksesan melalui seri LG G3. Ponsel flagship tersebut berhasil terjual lebih dari 10 juta unit secara global dan mengangkat posisi LG di pasar smartphone dunia.
Puncak kejayaan LG terjadi pada kuartal III-2014. Berdasarkan data Strategy Analytics, pangsa pasar smartphone global LG saat itu mencapai sekitar 5,2 persen. Perusahaan berhasil mengirimkan 16,8 juta unit smartphone dan menempati posisi keempat dunia, didorong oleh penjualan LG G3 serta seri L.
Namun, kejayaan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah bertahun-tahun bersaing di industri ponsel, LG akhirnya memutuskan menghentikan bisnis smartphone pada 2021.
Lantas, apa yang membuat LG menyerah?
Salah satu faktor utama adalah persaingan yang semakin ketat. Di segmen premium dan menengah, LG harus berhadapan dengan Apple dan Samsung yang telah memiliki basis pengguna kuat.
Sementara di kelas entry-level, LG menghadapi tekanan dari produsen asal China seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo yang menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga lebih kompetitif.
Persaingan tersebut membuat penjualan smartphone LG terus mengalami penurunan. Pada 2020, pangsa pasar smartphone LG secara global hanya berada di kisaran 2 persen.
Berdasarkan data Counterpoint Research, LG menjual sekitar 7,6 juta smartphone pada kuartal IV-2020. Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan Apple yang mencatat penjualan 81,9 juta unit iPhone, Samsung dengan 62,5 juta unit, serta Xiaomi sekitar 43 juta unit pada periode yang sama.
Penurunan penjualan turut berdampak terhadap kondisi keuangan divisi mobile LG. Menurut laporan Reuters, hingga 2021 divisi tersebut telah mengalami kerugian selama hampir enam tahun berturut-turut dengan total kerugian sekitar 4,5 miliar dollar AS.
Kontribusi bisnis smartphone terhadap pendapatan grup LG juga semakin kecil. Divisi mobile disebut hanya menyumbang sekitar 7 persen dari total pendapatan perusahaan.
LG sempat dikabarkan akan menjual bisnis smartphone kepada perusahaan asal Vietnam, Vingroup. Namun, rencana tersebut tidak pernah terealisasi.
Alih-alih terus bertahan di pasar yang semakin sulit, LG memilih menghentikan bisnis ponsel dan mengalihkan investasi ke sektor yang dianggap memiliki prospek lebih besar.
Perusahaan kemudian memperkuat sejumlah bidang seperti komponen kendaraan listrik, perangkat terhubung (connected devices), rumah pintar (smart home), robotika, kecerdasan buatan (AI), serta bisnis B2B.
Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Hingga 2026, divisi komponen kendaraan LG disebut memiliki nilai pesanan yang belum terpenuhi (order backlog) mencapai sekitar 90 triliun hingga 100 triliun won.
Selain itu, bisnis B2B LG juga terus berkembang dan kini berkontribusi sekitar 36 persen terhadap total pendapatan perusahaan.
Kisah LG menunjukkan bahwa keunggulan teknologi saja tidak selalu cukup untuk bertahan di industri smartphone. Perubahan strategi bisnis menjadi pilihan perusahaan untuk mengejar peluang pertumbuhan baru di tengah persaingan teknologi yang semakin ketat. (rdr/kmps)











