“Karena tidak bisa lagi membawa hasil dagangannya dengan mobil berkapasitas banyak atau mobil tronton. Maka pengepul sawit menurunkan harga mencapai Rp150 per kilogram,” katanya.
Hal itu sangat berimbas terhadap harga kelapa sawit petani. Setiap harinya ada sekitar 400 ton buah sawit yang melintas di daerahnya.
Jika 400 ton dikalikan harga yang diturunkan Rp 150, maka ada sekitar Rp 60 juta per hari nya petani sawit dirugikan dampak dari pembatasan muatan di daerah tersebut.
Apalagi jalan-jalan yang berlobang tambah parah karena intensitas kendaraan dump truck yang membawa sawit tinggi karena terbatasnya muatan.
“Kami datang DPRD untuk meminta membangun jalan itu kembali dan meminta peraturan maksimal muatan ini dianulir lagi, sesuai dengan kembali pada perjanjian kita sebelumnya dengan Forkopimca Lembah Melintang yang mengatur jadwal operasional mobil tronton ini,” Harapnya.
Ketua sementara DPRD Pasaman Barat Dirwansyah yang langsung menyambut masyarakat mengatakan pihaknya telah mendengarkan aspirasi masyarakat Koto Sawah dan akan segera menindaklanjutinya.
“Kita akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti dengan Dishub, Dinas PUPR dan Polres Pasaman Barat untuk mencari solusi tanpa merugikan siapapun,” sebutnya.
Sebelumnya Dinas Perhubungan Pasaman Barat memasang rambu-rambu pembatasan tonase muatan kendaraan angkutan dengan maksimal 8 ton yang melintas di Simpang Sayur menuju Nagari Ranah Koto Tinggi sesuai kelas jalan. (rdr/ant)