TEHERAN, RADARSUMBAR.COM – Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan lebih dari 5.000 orang, termasuk ratusan perempuan dan anak-anak, tewas dalam apa yang disebutnya sebagai “agresi” Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi dalam konferensi pers di New York dan dilansir media Iran pada Sabtu (26/9) dini hari.
Menurut Araghchi, sejumlah fasilitas sipil menjadi sasaran serangan AS dan Israel, termasuk kawasan permukiman, sekolah, rumah sakit, fasilitas energi, kompleks olahraga dan budaya, serta infrastruktur transportasi.
Kantor berita semiresmi Iran, Fars, melaporkan pernyataan tersebut.
Araghchi juga menyebut pembunuhan mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat politik dan militer senior Iran sebagai “kejahatan terang-terangan dan melanggar hukum internasional”.
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lainnya di Iran. Sejak saat itu, Iran memperketat pengawasannya terhadap Selat Hormuz.
Pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) terkait penghentian perang di kawasan tersebut di semua front, termasuk Lebanon.
Berdasarkan MoU tersebut, kedua pihak dijadwalkan menggelar perundingan dalam waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan final. Batas waktu perundingan tersebut berakhir pada 17 Agustus.
Namun, perkembangan perundingan tersebut masih belum jelas di tengah eskalasi yang terjadi belakangan ini. (rdr/ant)










