KESEHATAN

Sering Mengorok Saat Tidur? Waspada, Bisa Jadi Tanda Penyakit Jantung

×

Sering Mengorok Saat Tidur? Waspada, Bisa Jadi Tanda Penyakit Jantung

Sebarkan artikel ini
ilustrasi bahaya mengorok. (dok. istimewa)
ilustrasi bahaya mengorok. (dok. istimewa)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM — Kebiasaan mengorok saat tidur sering dianggap sebagai hal biasa. Namun, bagi orang dengan obesitas, kondisi tersebut patut mendapat perhatian serius karena bisa menjadi tanda obstructive sleep apnea (OSA) atau henti napas saat tidur. Gangguan tidur ini bahkan dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan irama jantung, termasuk fibrilasi atrium (AF).

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia lulusan Universitas Indonesia, dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar.(K), mengatakan kebiasaan mengorok masih menjadi kondisi yang banyak tidak terdiagnosis dan belum mendapatkan penanganan.

“Jadi, mengorok ini yang sangat-sangat under-diagnosed, yang sangat jauh dari terapi, bahwa pasien-pasien yang obesitas dan terkait dengan fibrilasi atrial atau AF, itu banyak yang mengorok,” kata Rizky dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Menurut Rizky, mengorok tidak seharusnya hanya dianggap sebagai tanda seseorang sedang tertidur. Terlebih apabila mengorok disertai OSA, yang ditandai dengan berhentinya napas selama beberapa detik ketika seseorang tidur.

Kondisi tersebut dapat terjadi berulang kali sepanjang malam. Ketika tubuh mengalami kekurangan oksigen, dapat terjadi inflamasi atau peradangan yang dalam jangka panjang berkontribusi terhadap proses aterosklerosis atau peradangan pada dinding pembuluh darah.

Baca Juga  Sakit Kepala Tak Kunjung Sembuh? Coba 6 Air Rebusan Herbal Ini

Kondisi itu, menurut dia, dapat mempermudah terjadinya gangguan irama jantung seperti fibrilasi atrium. “Jadi, mengorok ini harus diintervensi. Diintervensi bisa dengan konsultasi dengan dokter,” ujarnya.

Jangan Anggap Sepele Mengorok

Rizky menjelaskan, penanganan kebiasaan mengorok perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Jika berkaitan dengan kondisi tertentu seperti lemak darah, maka faktor tersebut perlu ditangani.

Sementara apabila mengorok berkaitan dengan alergi atau gangguan pada saluran pernapasan, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).

Ia juga mengingatkan bahwa aritmia tidak selalu muncul pada orang yang mengalami gangguan pada pembuluh darah koroner. Seseorang dengan pembuluh darah koroner yang normal tetap dapat mengalami gangguan irama jantung.

Karena itu, kualitas dan kecukupan tidur menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. “Tidurnya harus berkualitas, harus cukup, dan pastikan selama tidurnya yang cukup tadi, jumlahnya cukup, kualitasnya baik, harus ada screening mengorok,” kata Rizky.

Untuk pemeriksaan awal, kebiasaan mengorok dapat diketahui dengan menanyakannya kepada pasangan atau orang yang biasa tidur bersama. Sebab, orang yang mengalami gangguan tersebut belum tentu menyadari bahwa dirinya mengorok atau mengalami episode henti napas saat tidur.

Baca Juga  Pemerintah Dukung Pemanfaatan Bakteri Wolbachia Tekan Kasus Demam Berdarah

Selain itu, perkembangan teknologi juga dapat dimanfaatkan. Perangkat seperti jam pintar (smartwatch) dapat membantu memantau kualitas tidur dan memberikan gambaran mengenai adanya gangguan atau episode tertentu selama tidur.

Obesitas dan Risiko Aritmia

Rizky menambahkan, pengendalian obesitas dan resistensi insulin juga dapat membantu mengontrol aritmia. Namun, ia menekankan bahwa aritmia memiliki berbagai jenis dengan faktor risiko dan penanganan yang berbeda. Pada orang dengan obesitas, khususnya obesitas morbid, risiko mengalami fibrilasi atrium dapat lebih tinggi.

Fibrilasi atrium merupakan salah satu jenis gangguan irama jantung yang menyebabkan denyut jantung menjadi tidak teratur. Kondisi tersebut dapat ditangani dengan berbagai pendekatan, termasuk tindakan ablasi pada pasien tertentu.

Karena itu, menurut Rizky, persoalan berat badan, kualitas tidur, kebiasaan mengorok, hingga faktor metabolik perlu menjadi perhatian, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko gangguan irama jantung. (rdr)