Atumbuo warga Pulau Biang yang menyekolahkan putrinya di Pulau Tello mengatakan, kalau hal ini akan ia bawa ke ranah hukum.
Kendati mereka hanya orang kecil (miskin-red), mereka ingin menegakkan keadilan atas perilaku tenaga pendidik tersebut.
Pasca kejadian 7 Maret 2025 tersebut, ayah YD (17) mendatangi Polsek Pulau Pulau Batu (Pulau Tello). Menurut saran salah seorang personel kepolisian setempat yang menerima mereka, menyarankan untuk ke Polres Nias Selatan (Nisel).
Pasalnya kasus kekerasan terhadap anak, lebih tepat ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Nias Selatan. Setelah mendapat saran tersebut, orang tua bakal melaporkan kejadian pemukulan anak ke Polres Nisel.
“Kami memang ada rencana melapor ke polisi, hanya saja kami terkendala waktu. Sebab, kami dari pulau harus menyeberang dengan kapal penumpang,” katanya.
Walau begitu, orangtua korban akan terus berjuang, “Kami tetap akan melaporkan hal ini ke kepolisian dengan menunggu jadwal kapal berangkat ke Teluk Dalam,” ucapnya.
Atumbuo meminta doa dan dukungan dari semua pihak termasuk netizen. Untuk mengawal proses hukum terkait peristiwa ini.
“Saya mohon dukungan dari semua pihak, baik dinas pendidikan provinsi, aparat penegak hukum, pemerhati pendidikan dan anak, serta netizen untuk membantu saya.”
“Kami orang kecil Pak, kami ingin menegakkan kebenaran agar dunia pendidikan tidak seperti ini di masa mendatang,” pinta orangtua korban dengan tersedu.
Menurut data hasil penelusuran radarsumbar.com, oknum kepala sekolah terduga pelaku pemukulan terhadap siswi SMK Negeri 2 diketahui bernama Fatolosa Daya.
Sebelumnya terberitakan, seorang siswi SMK Negeri di Pulau Pulau Batu, Sumatera Utara, berinisial YD (17) diduga menjadi korban penganiayaan oleh oknum kepala sekolah.
Menurut pengakuan korban, ia ditampar dua kali hingga kepalanya terbentur dinding saat proses belajar mengajar berlangsung pada Jumat (7/3/2025).
Pasca kejadian tersebut, YD mengalami pendarahan pada hidung dan trauma sehingga tidak mau pergi ke sekolah.
Sementara itu, Fatolosa Daya selaku Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Pulau-Pulau Batu membantah tuduhan tersebut.
Ia mengklaim tidak pernah melakukan penamparan atau penganiayaan seperti yang dituduhkan kepadanya dan menuduh orang tua siswa serta siswi tersebut mengarang cerita.
“Saya hanya marah kepadanya, keluar kamu dari kelas ini. Itu kan bagian dari pembelajaran Pak, mendidik,” kata FD saat diwawancarai via telepon dari Kota Gunungsitoli. (rdr/tanhar)
Komentar