GUNUNGSITOLI, RADARSUMBAR.COM — Pertumbuhan jumlah koperasi di Kota Gunungsitoli dalam dua tahun terakhir menunjukkan tren positif.
Namun, peningkatan kuantitas tersebut belum sepenuhnya diiringi kualitas kelembagaan, terutama dalam aspek keaktifan dan pemanfaatan teknologi.
Data Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Ketenagakerjaan Kota Gunungsitoli mencatat, jumlah koperasi meningkat dari 124 unit pada 2024 menjadi 232 unit pada 2025.
Lonjakan ini mencerminkan percepatan pembentukan koperasi di daerah tersebut.
Kepala dinas setempat, Dafril Hulu, SE menyatakan pertumbuhan ini menjadi indikator meningkatnya peran koperasi dalam mendukung ekonomi masyarakat.
“Pertumbuhan dari 124 unit pada 2024 menjadi 232 unit pada 2025 menunjukkan perkembangan koperasi yang sangat signifikan,” ujar Dafril kepada RadarSumbar.com, Rabu (1/4/2026).
Secara keseluruhan, koperasi konvensional di Gunungsitoli tercatat sebanyak 132 unit. Namun, dari jumlah tersebut, hanya 66 unit yang aktif, sementara 66 lainnya belum beroperasi optimal.
“Secara kuantitatif koperasi di Kota Gunungsitoli terus bertambah, namun keaktifan masih perlu ditingkatkan agar seluruh unit dapat berjalan optimal,” jelasnya.
Ia menjelaskan, koperasi di Gunungsitoli menjalankan sektor usaha yang beragam, menyesuaikan kebutuhan masing-masing koperasi.
Ragam usaha ini menjadi salah satu kekuatan koperasi dalam menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat. Kemudian dalam aspek tata kelola, koperasi konvensional telah terhubung dengan aplikasi ODS.
Meski demikian, tingkat keaktifan dalam penggunaan sistem tersebut masih berada di angka 50 persen.
Dibalik itu, upaya digitalisasi terus didorong pemerintah daerah. Namun, sebagian besar koperasi masih menghadapi kendala penyusunan laporan keuangan berbasis aplikasi.
“Kami terus mengimbau penggunaan aplikasi, namun keterbatasan biaya masih menjadi kendala utama bagi koperasi dalam melakukan digitalisasi,” ucap mantan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Gunungsitoli.
Meski menunjukkan pertumbuhan signifikan, Pemerintah Kota Gunungsitoli belum melakukan perbandingan perkembangan koperasi dengan daerah lain di Sumatera Utara seperti Kota Medan atau Kabupaten Deli Serdang.
Hal ini disebabkan belum adanya survei komparatif yang dilakukan.
Dafril menegaskan, fokus saat ini masih pada penguatan internal koperasi agar dapat beroperasi secara optimal dan berkelanjutan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan koperasi di Gunungsitoli tidak hanya membutuhkan peningkatan jumlah, tetapi juga penguatan kualitas, terutama dalam aspek keaktifan dan adaptasi terhadap sistem digital. (rdr-tanhar)












