TEKNOLOGI

Twitter Baru Muncul, Pengguna Harus Bayar Rp355 Ribu untuk Bergabung

×

Twitter Baru Muncul, Pengguna Harus Bayar Rp355 Ribu untuk Bergabung

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi akun twitter. (net)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Twitter kembali muncul di kancah jejaring sosial. Namun, platform baru tersebut bukan bagian dari X milik Elon Musk dan justru diposisikan sebagai pesaingnya.

Platform itu dikembangkan oleh sekelompok orang yang dipimpin Stephen Coates, mantan penasihat hukum Twitter sebelum perusahaan tersebut diakuisisi Elon Musk dan berganti nama menjadi X.

Dikutip dari Engadget, Jumat (28/8), Stephen memperkenalkan platform tersebut melalui LinkedIn. Twitter baru itu kini dapat diakses melalui situs Twitter.now.

Menurut Stephen, pengembangan platform tersebut telah direncanakan sejak lama dan akhirnya diwujudkan melalui perusahaan rintisan bernama Operation Bluebird.

Saat mengakses situsnya, pengguna akan menemukan nuansa Twitter versi lama, termasuk warna biru yang menjadi identitas platform tersebut sebelum diakuisisi Musk.

Logo burung juga kembali digunakan, meski desainnya berbeda dari logo Twitter sebelumnya karena memiliki tambahan bulu.

Peluncuran platform tersebut berlangsung ketika seorang hakim masih mempertimbangkan permohonan perintah sementara yang diajukan Elon Musk dan X terhadap pengembang Twitter baru itu. Permohonan tersebut merupakan bagian dari gugatan terkait merek dagang yang masih berlangsung.

“Kami telah menunggu berbulan-bulan untuk meluncurkan produk ini, dan kami tidak akan menunggu lagi,” kata Stephen Coates kepada Ars Technica.

Operation Bluebird berulang kali menyatakan bahwa proyek tersebut memiliki dasar hukum. Mereka berpendapat bahwa Musk mengubah nama dan logo Twitter menjadi X setelah mengakuisisi perusahaan tersebut pada 2022.

Baca Juga  Apa yang Harus Diperiksa Sebelum Memutakhirkan Smartphone Anda?

Menurut kelompok tersebut, identitas dan kekayaan intelektual Twitter yang lama telah ditinggalkan sehingga memungkinkan platform baru dengan identitas Twitter untuk hadir.

Musk kemudian menggugat kelompok tersebut di pengadilan federal di Delaware.

Kasus tersebut masih berjalan. Namun, Hakim Pengadilan Distrik AS Colm Connolly dalam putusan pendahuluannya pada April menyatakan belum “menemukan bahwa X telah memberikan bukti yang kredibel tentang penggunaan ‘tweet’ atau logo burung.”

Stephen kini bertindak sebagai penasihat hukum bagi entitas baru tersebut, posisi yang sebelumnya juga diembannya di Twitter.

Ia menyebut putusan pendahuluan hakim tersebut sebagai lampu hijau bagi mereka.

“Menurut pendapat kami, X telah melepaskan haknya atas merek dagang Twitter dan tweet,” kata Stephen.

Situs Twitter baru itu juga secara jelas menyatakan tidak memiliki hubungan dengan X Corp melalui keterangan dalam materi branding-nya yang berbunyi “tidak berafiliasi dengan X Corp.”

Stephen kembali menegaskan hal tersebut melalui unggahan di LinkedIn.

“Ruang publik telah dibuka kembali, dan jelas tidak berafiliasi dengan X dalam bentuk apa pun. Sama sekali tidak,” tulisnya.

Baca Juga  Bea Cukai Imbau Masyarakat untuk Hati-Hati dengan Jasa Unlock IMEI

Dilengkapi AI untuk Cek Fakta
Operation Bluebird juga berupaya membedakan platform tersebut dari jejaring sosial modern lainnya.

Dalam pernyataan misinya, perusahaan tersebut menyebut bahwa media sosial telah menjadi sangat kuat, tetapi pada titik tertentu pengguna kehilangan kendali.

Platform itu kemudian dilengkapi alat kecerdasan buatan (AI) bernama Vera, singkatan dari veracity engine for real-time analysis.

Vera dirancang untuk memeriksa fakta setiap unggahan secara otomatis sehingga pengguna dapat mengetahui apakah informasi yang membuat mereka marah benar-benar berdasarkan fakta atau justru dibuat-buat.

Meski demikian, model Vera masih berada pada tahap awal pengembangan dan masih memiliki sejumlah kekurangan yang perlu diperbaiki.

Pengguna Harus Bayar
Berbeda dari sebagian besar platform media sosial, Twitter baru tersebut menerapkan akses berbayar.

Pengguna yang ingin bergabung setidaknya harus membayar 20 dolar AS atau sekitar Rp355 ribu untuk mendapatkan status sebagai pendiri (founder).

Twitter baru mengklaim biaya tersebut diperlukan untuk mencegah masuknya bot sekaligus menjaga independensi platform.

Menurut perusahaan, sistem akses berbayar dapat membantu memastikan bahwa terdapat orang sungguhan di balik setiap akun.

Meski demikian, perusahaan mengatakan akses tersebut akan diperluas kepada lebih banyak orang pada kemudian hari. (rdr/ant)