PADANG, RADARSUMBAR.COM – Universitas Negeri Padang (UNP) meminta Tentara Nasional Indonesia (TNI) memindahkan lapangan tembak yang berada di kawasan Lapai, Kota Padang. Permintaan itu disampaikan menyusul rentetan insiden peluru nyasar yang telah terjadi tujuh kali di lingkungan kampus sejak 2010.
Senior Eksekutif UNP, Profesor Ganefri, menilai keberadaan lapangan tembak di kawasan pusat kota sudah tidak lagi tepat. Terlebih, insiden terbaru kembali memakan korban. Dua orang, termasuk seorang mahasiswa UNP, mengalami luka akibat peluru nyasar saat berada di Lapangan Gedung Rektorat UNP pada Selasa (2/6/2026).
“Saran saya agar hal itu ditinjau ulang oleh pihak TNI dan dipindahkan. Panglima sudah berjanji akan mengevaluasi. Kami khawatir jika berganti panglima, hal ini dilupakan dan tidak ada tindak lanjut,” kata Ganefri, Kamis (4/6/2026), dikutip dari Ganto.co.
Menurut catatan UNP, lima dari tujuh insiden peluru nyasar terjadi saat Ganefri menjabat sebagai Rektor UNP pada periode 2016-2024. Ia mengaku kecewa karena berbagai janji evaluasi dan peningkatan pengamanan yang pernah disampaikan pihak Korem belum membuahkan hasil.
“Kami kecewa karena kejadian sudah berulang. Waktu saya jadi rektor, Danrem berjanji evaluasi dan meningkatkan keamanan, tetapi tidak ada perubahan. Jangan sampai ada korban meninggal,” ujarnya.
Ganefri menjelaskan, seluruh insiden peluru nyasar yang terjadi di lingkungan kampus berada di area yang tidak jauh dari Gedung Rektorat UNP. Sementara lapangan tembak TNI di Lapai berjarak sekitar 800 meter dari rektorat dengan posisi yang sejajar dan menghadap ke arah gedung tersebut.
Ia menilai insiden yang terus berulang turut merugikan citra kampus karena menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan lingkungan pendidikan. Bahkan, kawasan alun-alun rektorat yang kerap digunakan mahasiswa untuk berfoto setelah sidang skripsi ikut terdampak.
“Evaluasi lapangan tembak harus segera ditindaklanjuti. Mahasiswa sudah terdampak, kami juga kesulitan mengamankan mereka,” kata Ganefri. (rdr)












