PADANGHEADLINE

Anak-anak Surga yang Pernah Ditolak Dunia, Kisah Perjuangan Dewi Merawat Bayi Terlantar di Padang

×

Anak-anak Surga yang Pernah Ditolak Dunia, Kisah Perjuangan Dewi Merawat Bayi Terlantar di Padang

Sebarkan artikel ini
Bayi-bayi terlantar yang kini mendapatkan rumah di LKSA Bayi dan Balita Jasmin Nabila Hidayah, Ulak Karang. (dok. Radarsumbar.com)
Bayi-bayi terlantar yang kini mendapatkan rumah di LKSA Bayi dan Balita Jasmin Nabila Hidayah, Ulak Karang. (dok. Radarsumbar.com)

Di sebuah rumah di Jalan Sumatera No. E7, Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara, tangis bayi hampir tak pernah benar-benar berhenti. Ada yang menangis karena lapar, ada yang sakit, ada pula yang hanya ingin dipeluk lebih lama. Namun di tempat itu, tak ada satu pun anak yang dibiarkan sendiri.

Oleh: Agusmanto – Wartawan Utama

Rumah itu bernama LKSA Bayi dan Balita Jasmin Nabila Hidayah. Dan perempuan yang menjaga puluhan anak kecil di sana adalah Dewi Melinda. Jauh sebelum mendirikan panti pada tahun 2020, Dewi sebenarnya sudah lebih dulu merawat anak asuh.

Saat itu ia masih lajang. Ia membeli sebuah rumah yang awalnya hanya diniatkan sebagai tempat tinggal. Namun perlahan, rumah itu berubah menjadi tempat berlindung bagi anak-anak yang tak diinginkan dunia.

“Anak-anak itu lahir suci. Tapi ada anak-anak yang sejak lahir sudah dipaksa melihat dunia ini begitu kejam,” kata Dewi lirih.

Kalimat itu bukan sekadar ucapan bagi Dewi. Ia hidup bersama kenyataan pahit yang dialami bayi-bayi terlantar hampir setiap hari. Sebagian besar anak yang datang ke pantinya merupakan bayi hasil hubungan di luar nikah, anak yang dibuang, atau anak yang ditinggalkan karena sakit sejak lahir.

Ada yang ditemukan warga, ada yang diantar diam-diam ke panti, bahkan ada yang nyaris kehilangan nyawa sebelum sempat mengenal kasih sayang.

Bayi-bayi terlantar yang kini mendapatkan rumah di LKSA Bayi dan Balita Jasmin Nabila Hidayah, Ulak Karang. (dok. Radarsumbar.com)
Bayi-bayi terlantar yang kini mendapatkan rumah di LKSA Bayi dan Balita Jasmin Nabila Hidayah, Ulak Karang. (dok. Radarsumbar.com)

Salah satu kisah yang paling membekas di hati Dewi adalah seorang bayi yang sempat digugurkan oleh orangtuanya sendiri. Bayi itu seharusnya tidak selamat. Namun takdir berkata lain. Dalam kondisi hidup, bayi tersebut diantarkan tetangga ke panti milik Dewi.

Baca Juga  Membangun Harapan Pascabanjir; Keceriaan Anak-Anak Batu Busuk Setelah Kembali Belajar Tatap Muka

Saat diperiksa, bayi itu mengalami infeksi di otak dan usus. Selama 20 hari, bayi kecil itu bertaruh nyawa di rumah sakit. Dewi mendampinginya. Menunggu dan berdoa.

Dan ketika masa kritis berhasil dilewati, bayi itu dibawa pulang ke panti. Kini usianya sudah satu tahun empat bulan. Tumbuh ceria. Tertawa seperti anak-anak lain. Seolah tak pernah tahu bahwa dunia dulu hampir menolaknya.

“Kalau saya menyerah waktu itu, mungkin anak itu tidak ada sekarang,” ujar Dewi.

Saat ini, Dewi merawat 27 anak asuh di pantinya. Terdiri dari 11 bayi, 11 balita, dan lima anak usia sekolah dasar. Selain itu, ada pula 13 anak usia SMA yang tinggal di rumah kos di luar panti agar tetap bisa melanjutkan pendidikan. Beberapa bahkan sudah berhasil menamatkan sekolah.

Perjuangan itu tentu tidak mudah. Setiap hari, Dewi harus mengeluarkan biaya hingga Rp2 juta untuk kebutuhan anak-anak asuhnya.

Mulai dari susu, pampers, kebutuhan makan, obat-obatan, hingga honor lima orang perawat, enam pengasuh dan seorang tukang keberhsihan yang membantu menjaga anak-anak tersebut.

Namun bagi Dewi, lelah bukanlah hal paling menyakitkan. Yang paling berat justru ketika panti itu pernah akan disegel, dihujat warga, mendapat gunjingan bahkan diminta untuk ditutup.

Baca Juga  Langgar Jam Operasional, Aktivitas di Kafe Karaoke di Padang Dibubarkan Satpol PP

Ia pernah berada di titik paling letih dalam hidupnya. Ingin berhenti. Ingin menyerah. Tetapi setiap kali itu muncul, satu pertanyaan terus menghantuinya. “Kalau saya berhenti… siapa yang akan menjaga anak-anak surga itu?”

Beruntung, keluarganya menjadi orang-orang pertama yang berdiri di belakangnya. Sang suami, keluarga besar, bahkan anak kandungnya ikut mendukung langkah Dewi membesarkan puluhan anak terlantar tersebut.

Terbuka untuk Diadopsi

Dewi pun membuka pintu bagi siapa saja yang ingin mengadopsi anak secara resmi dan legal. Ia menegaskan, tak ada biaya apa pun untuk proses itu.

Siapa pun yang benar-benar ingin menjadi orangtua bagi anak-anak tersebut dipersilakan datang langsung ke panti dan mengikuti aturan hukum yang berlaku untuk proses adopsi.

Di balik segala perjuangan itu, Dewi hanya punya satu pesan sederhana untuk masyarakat. “Walaupun mereka lahir dengan cerita yang tidak baik, jangan dihujat. Mereka punya hak untuk hidup.”

Kalimat itu terasa begitu dalam. Karena anak-anak itu tak pernah memilih dilahirkan dari keadaan seperti apa. Mereka hanya ingin dicintai. Dan di rumah sederhana di Ulak Karang itu, Dewi memastikan mereka tetap mendapatkan alasan untuk percaya bahwa dunia belum sepenuhnya kejam.

Bagi masyarakat yang ingin membantu kebutuhan anak-anak di LKSA Bayi dan Balita Jasmin Nabila Hidayah, donasi dapat disalurkan melalui rekening yayasan di nomor rekening 7293299816 a.n. LKS Anak Balita Jasmin Nabila. (**)