JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Pendiri SpaceX dan Tesla, Elon Musk, disebut menjadi triliuner pertama di dunia setelah perusahaan antariksa SpaceX melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari sejumlah media internasional, valuasi SpaceX setelah IPO mendekati 2 triliun dolar AS. Dengan kepemilikan sekitar 40 persen saham perusahaan, lonjakan valuasi tersebut turut mendongkrak kekayaan Musk secara signifikan.
Data Forbes menunjukkan sebelum IPO SpaceX, kekayaan Musk diperkirakan mencapai sekitar 780 miliar dolar AS. Nilai tersebut sudah jauh melampaui kekayaan para miliarder lainnya, termasuk pendiri Google, Larry Page.
Laporan organisasi nirlaba Oxfam menyebut total kekayaan Musk kini melebihi gabungan kekayaan sekitar 46 persen penduduk termiskin dunia atau sekitar 3,8 miliar orang. Dalam setahun terakhir, kekayaan Musk disebut bertambah sekitar 550 miliar dolar AS.
Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa sebagian besar kekayaan Musk masih berupa kepemilikan saham dan aset perusahaan yang belum direalisasikan dalam bentuk tunai.
Profesor akuntansi Georgetown University, Jason Schloetzer, mengatakan nilai kekayaan tersebut sebagian besar masih berada “di atas kertas” karena terikat pada kepemilikan saham.
“Menjual saham akan mengurangi kendali kepemilikan dan hak suaranya. Di atas kertas, Anda mungkin sangat kaya, tetapi itu adalah aset yang tidak ingin Anda jual,” ujarnya.
Di sisi lain, IPO SpaceX juga memunculkan perdebatan mengenai valuasi perusahaan. Sejumlah investor menilai prospek bisnis SpaceX sangat besar karena perusahaan memiliki ambisi mengembangkan koloni manusia di Mars, memperluas layanan satelit, hingga mengembangkan bisnis kecerdasan buatan.
Namun, sebagian analis menilai valuasi perusahaan terlalu tinggi dibandingkan fundamental bisnis yang ada saat ini. Firma riset Morningstar, misalnya, memperkirakan nilai wajar SpaceX berada jauh di bawah valuasi saat IPO.
Dalam dokumen regulator, SpaceX juga mengakui sejumlah rencana bisnisnya masih bergantung pada teknologi yang belum terbukti secara komersial. Selain itu, unit bisnis kecerdasan buatan xAI disebut masih menghadapi tantangan besar untuk mencapai profitabilitas.
Meski demikian, antusiasme investor terhadap SpaceX tetap tinggi. Banyak investor menilai keberhasilan perusahaan selama ini tidak terlepas dari kepemimpinan Elon Musk yang dinilai mampu mendorong inovasi dan ekspansi bisnis di berbagai sektor teknologi. (rdr/kmps)








