LIFESTYLE

Dokter: Tontonan Gambar Cepat Bisa Picu Perilaku Hiperaktif pada Anak

2
×

Dokter: Tontonan Gambar Cepat Bisa Picu Perilaku Hiperaktif pada Anak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi tontontan anak. (Foto: Ist)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp.TKPS (K), mengingatkan orang tua untuk selektif memperkenalkan tontonan kepada anak demi menjaga tumbuh kembang tetap optimal.

Dalam seminar media yang diikuti secara daring dari Jakarta, Selasa, Farid mengatakan tontonan dengan pergantian gambar yang sangat cepat dapat memengaruhi perilaku anak menjadi serba cepat dan tampak hiperaktif.

Ia menegaskan, anak usia kurang dari satu tahun tidak direkomendasikan mendapatkan paparan layar (screen time) dalam bentuk apa pun, sesuai rekomendasi IDAI.

“Di usia kurang dari dua tahun hanya boleh video chatting, itu pun dengan keluarga dekat. Anak usia 2 sampai 6 tahun screen time-nya jangan lebih dari satu jam per hari dan harus didampingi orang tua, ada interaksi, serta kontennya harus berkualitas,” ujarnya.

Balita, terutama usia di bawah dua tahun, merupakan kelompok paling berisiko terhadap paparan layar berlebihan. Pada fase tersebut, anak berada dalam periode emas pertumbuhan dan perkembangan otak yang berlangsung sangat pesat.

Paparan screen time berlebih dapat mengurangi kualitas dan kuantitas interaksi langsung dengan lingkungan. Akibatnya, berbagai aspek keterampilan perkembangan anak berpotensi tidak terstimulasi secara optimal.

Farid juga mengutip rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP) yang menyebut orang tua tidak perlu khawatir anak akan tertinggal teknologi jika tidak diperkenalkan sejak dini.

“Kalau baru dikenalkan teknologi usia 3 atau 4 tahun, belajarnya cepat sekali. Jadi jangan khawatir anak akan tertinggal,” katanya.

Ia menekankan pentingnya pendampingan aktif orang tua dalam penggunaan media digital. Pendampingan tidak sekadar mengawasi, tetapi juga membantu anak memahami konten yang ditonton dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata.

Orang tua juga disarankan memantau aplikasi dan konten yang diakses anak, tidak menjadikan gawai sebagai satu-satunya cara menenangkan anak, serta menghindari paparan layar setidaknya satu jam sebelum waktu tidur.

Selain itu, orang tua perlu menyediakan aktivitas alternatif agar anak tidak bergantung pada layar, sekaligus menjadi teladan dengan membatasi penggunaan gawai di depan anak.

“Kalau anak tidak diperbolehkan menonton atau bermain ponsel, orang tua juga sebaiknya tidak memainkan gawai di depan anak,” ujar Farid. (rdr/ant)