KESEHATAN

Apa Itu Hantavirus? Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Penularannya

×

Apa Itu Hantavirus? Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Penularannya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi hantavirus. (Foto: Ist)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Virus hanta atau hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah dilaporkan menginfeksi penumpang kapal pesiar MV Hondius tujuan Tenerife, Spanyol. Dalam insiden tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Rio Yansen Cikutra, Sp.PD, menjelaskan virus hanta merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus. Virus ini dapat memicu gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal.

“Infeksi Hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission, yakni saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi,” kata dr. Rio dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Selain melalui udara, penularan juga bisa terjadi akibat kontak langsung dengan sarang tikus atau permukaan yang terkontaminasi, lalu menyentuh hidung, mata, maupun mulut.

Menurut dr. Rio, virus hanta dapat menyebabkan dua sindrom utama, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan paru-paru, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.

Baca Juga  IDAI Pastikan Belum Ada Penularan Virus Nipah ke Manusia di Indonesia

Gejala infeksi umumnya berkembang dalam dua tahap. Pada tahap awal, penderita dapat mengalami demam, sakit kepala berat, nyeri otot terutama di area punggung dan paha, tubuh lemas, hingga gangguan pencernaan seperti nyeri perut, muntah, dan diare.

Sementara pada tahap lanjutan, kondisi pasien dapat memburuk dengan munculnya batuk dan sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru. Penderita juga dapat mengalami penurunan tekanan darah drastis, syok, gangguan fungsi ginjal, hingga jaundice atau kulit menguning.

Untuk mencegah penularan, masyarakat diimbau menghindari area dengan populasi tikus tinggi, terutama ruangan tertutup yang lama tidak dibersihkan seperti gudang, loteng, maupun bangunan lama.

Selain itu, masyarakat disarankan menutup celah rumah agar tikus tidak masuk, menjaga kebersihan lingkungan dengan metode pel basah guna mengurangi partikel berbahaya di udara, serta memperhatikan sanitasi dan pengelolaan sampah.

Baca Juga  Mana yang Sehat? Sikat Gigi Sebelum atau Sesudah Sarapan

Kelompok pekerja di sektor pertanian dan perkebunan, serta masyarakat yang sering beraktivitas di alam terbuka seperti berkemah, dinilai memiliki risiko lebih tinggi terpapar virus hanta karena rentan bersentuhan dengan habitat hewan pengerat.

“Jika mengalami demam tinggi disertai nyeri otot hebat setelah beraktivitas di lingkungan berisiko atau memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujar dr. Rio.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menegaskan pentingnya penanganan medis cepat terhadap potensi penyakit infeksi seperti virus hanta.

Menurutnya, Bethsaida Hospital telah menyiapkan fasilitas ruang isolasi modern dan tenaga medis kompeten untuk menghadapi berbagai tantangan penyakit menular. (rdr/ant)