KESEHATAN

Skrining Tuberkulosis Digencarkan, 77 Kasus Positif Ditemukan dari 105 Titik di Padang

×

Skrining Tuberkulosis Digencarkan, 77 Kasus Positif Ditemukan dari 105 Titik di Padang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi - Dokter memeriksa pasien penyakit Tuberkulosis (TBC). (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/YU/aa)

PADANG, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah Indonesia melakukan skrining tuberkulosis (TB) di 53.335 lokasi di seluruh Indonesia pada 2026 untuk mempercepat penemuan kasus dan menekan penularan penyakit tersebut.

“Kita ingin mempercepat penemuan penderita TB, karena semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula mendapatkan pengobatan. Dengan begitu, risiko penularan kepada orang di sekitarnya dapat dikurangi,” kata Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus di Padang, Jumat.

Hal itu disampaikan dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat “Untuk Indonesia Sehat” melalui skrining TB di Kota Padang, Sumatera Barat, pada 17-18 September 2026.

Benjamin menargetkan penemuan dan pengobatan kasus TB di Indonesia mencapai 90 persen pada 2026 sebagai upaya menekan penularan penyakit tersebut.

“Tahun ini kita harapkan naik 90 persen, jadi kalau bisa satu juta orang ditemukan dan diobati. Makin banyak yang diobati dan sembuh, maka tidak menularkan penyakit TB lagi,” ujarnya.

Ia menjelaskan Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 1,08 juta kasus TB dengan angka 382 kasus per 100 ribu penduduk. Pada 2025, sebanyak 867 ribu kasus telah ditemukan dan diobati atau sekitar 80 persen.

Menurut dia, penanganan TB di Indonesia selama ini telah berjalan dengan baik, terutama dalam pengobatan pasien yang telah terdiagnosis. Namun, upaya pencegahan terhadap orang yang melakukan kontak erat dengan pasien TB masih perlu diperkuat.

Baca Juga  Banyak Makan saat Lebaran, Resep Jus AJT Ini Mungkin Bisa Membantu

“Kalau untuk mengobati pasien TB, Indonesia sudah mampu melakukannya dengan baik dari Aceh sampai Papua. Yang masih menjadi persoalan adalah upaya pencegahannya yang belum berjalan optimal,” katanya.

Salah satu upaya yang dilakukan, kata dia, adalah memeriksa orang yang memiliki kontak erat atau tinggal serumah dengan pasien TB. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan orang tersebut tidak menderita TB, yang bersangkutan dapat diberikan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) untuk mencegah berkembangnya penyakit.

Ia menjelaskan TB merupakan penyakit menular dengan rentang waktu yang cukup panjang sejak seseorang terpapar atau terinfeksi kuman hingga tanda dan gejala penyakit muncul.

“Penularan TB tidak langsung membuat seseorang sakit. Ketika seseorang tertular, gejalanya bisa baru muncul beberapa bulan kemudian. Karena prosesnya berjalan perlahan, penyakit ini sering tidak disadari sejak awal,” ujarnya.

Khusus di Kota Padang, kegiatan skrining dilaksanakan di 242 titik dengan sasaran utama orang yang melakukan kontak erat dengan pasien TB.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Srikurnia Yati mengatakan pihaknya berkomitmen melaksanakan pelacakan kasus TB di seluruh kecamatan di kota itu sebagai upaya menekan penularan.

“Sebanyak 11 kecamatan di Kota Padang sudah berkomitmen untuk melaksanakan pelacakan dan peduli terkait dengan penurunan kasus TB,” katanya.

Ia mengatakan sebanyak 104 kelurahan di Kota Padang juga telah dibentuk menjadi kelurahan siaga TB.

Baca Juga  Saatnya Kamu Hentikan, Ini Dia Bahaya Main Ponsel Sebelum Tidur

Pelacakan kasus dilakukan sejak pertengahan September hingga November 2026 dengan menyasar kontak erat pasien, kelompok berisiko, dan masyarakat yang memiliki faktor risiko, seperti penderita diabetes, perokok berat, lanjut usia, dan anak-anak.

Srikurnia mengatakan pelacakan kasus TB oleh Dinkes Padang dilakukan di 242 titik dan sejauh ini telah berjalan di 105 titik.

“Dari hasil pelacakan yang sudah kita lakukan pada 105 titik tersebut, kita mendapatkan 77 kasus positif tuberkulosis. Kita harus pantau terus sampai selesai masa pengobatan,” katanya.

Proses skrining TB di Kota Padang dilakukan menggunakan rontgen portabel untuk memudahkan pemeriksaan masyarakat di lapangan.

Menurut Srikurnia, penggunaan rontgen portabel membantu petugas melakukan pemeriksaan langsung di lapangan sehingga masyarakat tidak perlu datang ke rumah sakit.

“Kita bawa alat ke lapangan. Masyarakat tidak perlu lagi datang ke rumah sakit, cukup dilakukan rontgen di tempat kegiatan,” ujarnya.

Ia menegaskan penemuan kasus TB dalam jumlah banyak bukan menunjukkan kegagalan program kesehatan, melainkan bagian dari upaya menemukan penderita agar segera mendapatkan pengobatan.

“Kasus kita temukan bukan berarti kekurangan di kita, tetapi merupakan suatu upaya untuk menekan penularan. Harapan kita dengan kasus positif yang sebanyak-banyaknya kita temukan dapat kita obati sampai 100 persen,” katanya. (rdr/ant)