PADANG, RADARSUMBAR.COM – Perekonomian Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mencatat kinerja positif pada awal 2026 dengan pertumbuhan sebesar 5,02 persen secara tahunan (year-on-year) pada Triwulan I 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar yang dirilis pada 5 Mei 2026, pertumbuhan ini menunjukkan pemulihan ekonomi daerah yang tetap terjaga di tengah dinamika global dan proses pemulihan pascabencana.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, mengatakan capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa fondasi ekonomi daerah semakin stabil.
“Ekonomi Sumatera Barat tumbuh 3,15 persen secara kuartalan dibandingkan triwulan sebelumnya. Ini menunjukkan adanya akselerasi aktivitas ekonomi,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan, struktur ekonomi Sumbar masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 22,03 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Hal ini menegaskan karakter ekonomi daerah yang masih berbasis sumber daya alam.
Namun, katanya sektor lain seperti perdagangan, transportasi, konstruksi, dan industri pengolahan juga menunjukkan kontribusi signifikan sebagai penopang pertumbuhan ekonomi.
“Dari sisi lapangan usaha, sektor perdagangan menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 1,02 persen. Kenaikan ini didorong meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri serta lonjakan transaksi e-commerce yang tumbuh lebih dari 50 persen,” katanya.
Arry menjelaskan, dari sisi pengeluaran, investasi melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi pendorong utama pertumbuhan dengan kontribusi 1,99 persen. Hal ini didukung lonjakan impor barang modal hingga 143,50 persen untuk kebutuhan mesin dan alat berat.
Selain itu, ekspor Sumbar juga tumbuh kuat sebesar 19,91 persen dengan kontribusi 1,94 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Komoditas unggulan seperti minyak sawit mentah (CPO) menjadi penopang utama ekspor, disusul produk kimia berbasis gambir yang menunjukkan peningkatan permintaan global.
“Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang ekonomi, meski pertumbuhannya moderat. Momentum Ramadan dan Idul Fitri turut mendorong belanja masyarakat, terutama pada sektor makanan dan jasa,” tuturnya.
Kemudian, dari sisi konsumsi petani masih relatif stagnan dengan pertumbuhan sekitar 0,52 persen, sementara peningkatan tabungan dan kredit konsumsi menunjukkan kehati-hatian masyarakat dalam belanja.
Lalu dari sisi fiskal, konsumsi pemerintah tumbuh karena peningkatan belanja pegawai termasuk pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR). Namun, belanja barang dan jasa mengalami kontraksi akibat efisiensi anggaran dan keterlambatan pengadaan.
“Secara sektoral, hampir seluruh lapangan usaha tumbuh positif, kecuali sektor pengadaan listrik dan gas. Sektor dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari penyediaan akomodasi dan makanan minuman yang tumbuh 17,77 persen, menandakan pemulihan sektor pariwisata dan jasa. Sektor jasa keuangan dan jasa lainnya juga menunjukkan pertumbuhan kuat, mengindikasikan mulai beragamnya struktur ekonomi Sumbar,” ulasnya.
Secara regional, katanya, Sumbar menyumbang 6,83 persen terhadap perekonomian Pulau Sumatera dan 1,51 persen terhadap ekonomi nasional. Pertumbuhan ini menempatkan Sumbar di posisi keempat di Sumatera.
Meski menunjukkan tren positif, menurutnya, sejumlah tantangan masih perlu diantisipasi, seperti ketergantungan pada komoditas ekspor tertentu, konsumsi yang belum sepenuhnya pulih, serta efisiensi belanja pemerintah.
“Ke depan, pemerintah daerah perlu mendorong penguatan sektor hilir, diversifikasi ekonomi, serta peningkatan daya beli masyarakat agar pertumbuhan lebih inklusif dan berkelanjutan. (rdr)












