OPINI

Dua Dekade Mengabdi untuk Kemanusiaan, Dari Sumatera Barat ke Forum Internasional

×

Dua Dekade Mengabdi untuk Kemanusiaan, Dari Sumatera Barat ke Forum Internasional

Sebarkan artikel ini
Zulkifli (tiga dari kiri) saat menghadiri forum internasional di bidang mitigasi bencana pada 2015 silam. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh:

Zulkifli (Pendiri Forum KSB Kota Padang, Ketua Komite Peduli Bencana (KPB) Kota Padang)

Pengalaman panjang di dunia kebencanaan mengajarkan satu hal penting: bencana memang tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalisir melalui kesiapsiagaan, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong yang kuat di tengah masyarakat.

Sebelas tahun lalu, saya mendapat kehormatan mewakili Sumatera Barat dalam sebuah forum internasional di bidang mitigasi bencana yang dihadiri delegasi dari berbagai negara, termasuk Australia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga untuk berbagi pengetahuan sekaligus belajar dari praktik-praktik terbaik pengurangan risiko bencana di berbagai negara.

Kepercayaan itu datang dua tahun setelah saya menerima penghargaan sebagai Warga Kehormatan Kota Padang di bidang kebencanaan. Namun bagi saya, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Justru penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat harus terus dilanjutkan.

Baca Juga  Filosofi Rendang dan Makna Merendang Basamo di Tokyo

Lebih dari dua dekade berkecimpung di bidang kemanusiaan dan kebencanaan, saya menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat yang siap dan terorganisir mampu menghadapi ancaman bencana dengan lebih baik. Dari pengalaman tersebut, saya semakin yakin bahwa ketangguhan masyarakat harus dibangun dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga dan komunitas.

Keyakinan itu mendorong saya untuk mendirikan Forum Kelompok Siaga Bencana (KSB) Kota Padang yang hingga kini terus aktif bergerak dalam upaya pengurangan risiko bencana. Selain itu, saya juga aktif dalam Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) serta menginisiasi berdirinya Komite Peduli Bencana (KPB) pada tahun 2018 sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam kegiatan kemanusiaan.

Bagi saya, pengabdian tidak hanya diwujudkan melalui seminar, forum, atau kegiatan berskala besar. Pengabdian yang sesungguhnya adalah hadir di tengah masyarakat, mendengar kebutuhan mereka, dan ikut mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi. Karena itu, saya juga terlibat aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan dan saat ini dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua RW.

Baca Juga  Indonesia Mau Kiamat jika Kondom Difasilitasi?

Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa pembangunan masyarakat yang tangguh harus dimulai dari tingkat paling bawah. Ketika warga memiliki kesadaran, kepedulian, dan kemampuan untuk saling membantu, maka mereka tidak hanya lebih siap menghadapi bencana, tetapi juga lebih kuat menghadapi berbagai tantangan sosial lainnya.

Pada akhirnya, ketangguhan bukan hanya soal infrastruktur atau teknologi. Ketangguhan sejati lahir dari manusia-manusia yang peduli, terorganisir, dan memiliki semangat gotong royong yang tetap hidup di tengah masyarakat. (*)