KESEHATANOPINI

Penelitian UNAND Ungkap Tingginya Risiko Karies Gigi pada Anak  Usia 6–10 Tahun

×

Penelitian UNAND Ungkap Tingginya Risiko Karies Gigi pada Anak  Usia 6–10 Tahun

Sebarkan artikel ini
Karies pada anak. (dok. istimewa)
Karies pada anak. (dok. istimewa)

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan, dimana sebagian besar anak yang datang berobat ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Andalas (RSGM Unand) memiliki risiko tinggi mengalami karies atau gigi berlubang.

Oleh: drg. Puji Kurnia, MDSc, Sp.KGA – Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of the Medicine and Case Reports ini menggunakan desain penelitian potong lintang (cross-sectional). Penelitian ini berlangsung sepanjang tahun 2023 dengan melibatkan 27 pasien anak berusia 6 hingga 10 tahun yang berkunjung ke RSGM Unand untuk mendapatkan perawatan gigi rutin.

Dengan menggunakan protokol penilaian risiko karies internasional yang dikenal sebagai Caries Management by Risk Assessment (CAMBRA), para peneliti mewawancarai orang tua atau wali pasien serta melakukan pemeriksaan klinis langsung pada rongga mulut anak.

Hasilnya cukup mengejutkan, sebanyak 88,9 % atau 24 dari 27 anak yang diperiksa masuk dalam kategori risiko karies tinggi. Hanya satu anak yang berisiko rendah dan dua anak berisiko sedang.

Temuan ini sejalan dengan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang selama ini menunjukkan lonjakan tajam prevalensi karies pada anak usia 5–9 tahun di Indonesia, dari 25,9% pada 2013 menjadi 92,6%. Di Sumatera Barat sendiri, angka karies pada rentang usia yang sama tercatat sebesar 51 %.

Baca Juga  Di Tengah Galodo Sumbar, Andre Rosiade selalu Hadir untuk Rakyat

Anak Perempuan Lebih Banyak, Anak Laki-laki Sedikit Lebih Berisiko

Dari sisi jenis kelamin, partisipan penelitian didominasi anak perempuan sebanyak 16 orang (59,3%), sementara anak laki-laki berjumlah 11 orang (40,7%). Menariknya, meski jumlah anak laki-laki lebih sedikit, persentase mereka yang berisiko tinggi justru sedikit lebih besar, yakni 90%, dibandingkan anak perempuan yang mencapai 87,6 %. Namun para peneliti menegaskan bahwa perbedaan ini secara statistik tidak signifikan, sehingga tidak bisa disimpulkan bahwa jenis kelamin tertentu benar-benar lebih rentan terhadap karies.

Risiko Tinggi di Hampir Semua Kelompok Usia

Penelitian ini juga memetakan risiko karies berdasarkan usia. Anak-anak berusia 7, 8, dan 10 tahun tercatat memiliki prevalensi risiko tinggi hingga 100 %, dimana artinya seluruh anak dalam kelompok usia tersebut berisiko tinggi mengalami karies. Sementara itu, kelompok usia 6 tahun dan 9 tahun juga menunjukkan angka yang tak kalah tinggi, masing-masing 86 % dan 80 %.

Para peneliti menjelaskan bahwa usia 6 tahun merupakan masa kritis dalam tumbuh kembang gigi anak, karena pada periode ini gigi susu dan gigi permanen tumbuh bersamaan (gigi campuran), sehingga rongga mulut anak menjadi lebih rentan terhadap kerusakan.

Faktor Penyebab dan Pentingnya Pencegahan Dini

Menurut penelitian ini, munculnya karies gigi pada anak dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari tingginya konsumsi makanan dan minuman manis, keberadaan plak gigi yang terlihat jelas, rendahnya laju aliran air liur, penggunaan alat ortodontik, kondisi medis tertentu, hingga keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan gigi.

Baca Juga  Konsumsi Garam Terlalu Banyak, Ini Dampaknya bagi Tubuh

Para peneliti menekankan pentingnya deteksi dini terhadap anak-anak yang berisiko tinggi, agar dapat segera dilakukan intervensi berupa perubahan perilaku, penggunaan bahan kimia pencegah karies, hingga tindakan non-invasif lainnya. Hal ini sejalan dengan target Kementerian Kesehatan RI yang mencanangkan Indonesia bebas karies pada 2030, dengan sasaran anak usia 12 tahun bebas dari gigi berlubang.

Perlu Penelitian Lebih Lanjut

Meski demikian, tim peneliti mengakui keterbatasan studi ini, terutama dari sisi jumlah sampel yang masih kecil serta ketimpangan jumlah partisipan antara anak laki-laki dan perempuan. Mereka merekomendasikan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar serta cakupan faktor risiko yang lebih luas, agar gambaran beban karies pada anak-anak di Sumatera Barat dapat dipahami secara lebih komprehensif.

“Temuan ini menegaskan perlunya strategi pencegahan dan penanganan karies yang lebih terarah bagi anak-anak, khususnya yang berkunjung ke RSGM Unand,” tulis para peneliti dalam kesimpulan studinya. (**)

Sumber: Kurnia, P., Mona, D., Khoir, M., Durrotul, R., Arsyiah, S. 2025. “Prevalence and Risk Factors of Dental Caries in Pediatric Patients: A Clinical Examination-Based Study in a Dental and Oral Hospital”. Archives of the Medicine and Case Reports [AMCR]. DOI: 10.37275/amcr.v6i2.715