JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendorong penguatan sinergi lintas sektor untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism guna menyeimbangkan target devisa negara dengan upaya penurunan emisi gas rumah kaca.
Project Manager FOLU Net Sink 2&3 Kementerian Kehutanan, Arga Paradita Sutiyono, mengatakan aktivitas pariwisata memang menghasilkan jejak karbon, namun hal tersebut tidak harus bertentangan dengan target FOLU Net Sink 2030.
“Program Net Sink tidak bertujuan membatasi atau melarang manusia beraktivitas di alam. Justru yang didorong adalah bagaimana peran manusia terhadap perbaikan lingkungan melalui pengelolaan yang terintegrasi,” kata Arga dalam forum diskusi “Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia FOLU Net Sink 2030” di Taman Nasional Gunung Ciremai, Senin malam.
Ia menilai Indonesia perlu mencontoh tata kelola pariwisata negara lain seperti Turki yang mampu mengelola jumlah wisatawan dalam skala besar dengan tetap menjaga kelestarian alam dan situs sejarah.
Menurut dia, keberhasilan tersebut didukung koordinasi antarsektor dan aksesibilitas yang terintegrasi.
Arga menyoroti masih minimnya akses menuju sejumlah kawasan konservasi di Indonesia, seperti Taman Nasional Kayan Mentarang, yang dinilai belum memiliki integrasi transportasi memadai dibandingkan destinasi unggulan seperti Taman Nasional Komodo.
“Jika akses pariwisata disediakan dengan mudah dan terkoordinasi antarsektor, maka konsep pariwisata berkelanjutan tidak akan menekan kelestarian alam,” ujarnya.
Kemenhut berharap kolaborasi multisektor terus diperkuat agar taman nasional dapat berkembang menjadi pusat pariwisata berkelanjutan sekaligus menciptakan peluang ekonomi masyarakat.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan program di Taman Nasional Way Kambas yang mengedepankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perbaikan lingkungan.
“Kita harus menciptakan peluang devisa sambil tetap memperbaiki lingkungan. Jika pengelolaan lingkungan buruk, wisatawan pun akan enggan berkunjung,” kata Arga.
Kegiatan “Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia’s FOLU Net Sink 2030” digelar pada 11–13 Mei 2026 di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat.
Forum tersebut melibatkan perwakilan kementerian dan lembaga pemerintah, lembaga konservasi, serta pewarta nasional di lingkungan Kementerian Kehutanan.
Kegiatan yang diinisiasi Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan itu bertujuan memperkuat peran perempuan dalam pengelolaan hutan serta mendukung pencapaian target FOLU Net Sink 2030 melalui komunikasi publik yang kolaboratif. (rdr/ant)












