PADANG, RADARSUMBAR.COM – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) memperkuat kesiapsiagaan penanganan keadaan darurat di tingkat operasional SPBU dengan memastikan kesiapan personel serta keandalan sistem keselamatan.
Region Manager Health, Safety, Security and Environment (HSSE) Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Agoeng Priyanto, mengatakan salah satu langkah yang dilakukan ialah menggelar simulasi penanggulangan kebakaran di SPBU.
“Simulasi penanggulangan keadaan darurat kebakaran di SPBU menjadi langkah penting untuk memastikan kesiapan personel di garis depan operasional,” kata Agoeng di Padang, Kamis.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi sistem tanggap darurat guna memastikan efektivitas penanganan keadaan darurat di tingkat operasional SPBU.
Melalui simulasi itu, Pertamina memastikan setiap potensi risiko dapat ditangani secara cepat, aman, dan terkendali demi melindungi masyarakat, pekerja, serta fasilitas operasional.
“Simulasi difokuskan pada kemampuan respons awal di tingkat SPBU sehingga setiap operator dan petugas memiliki kesiapan melakukan tindakan cepat, tepat, dan sesuai prosedur saat menghadapi kondisi darurat,” ujarnya.
Selain itu, Pertamina juga memastikan koordinasi dengan para pemangku kepentingan eksternal berjalan efektif sebagai bagian dari sistem tanggap darurat terpadu.
Agoeng mengatakan simulasi kesiapsiagaan penanganan keadaan darurat tersebut digelar di SPBU 14.251.520 di Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, dengan skenario kebakaran sepeda motor di area pulau pompa.
Dalam simulasi, kebakaran dipicu kebocoran tangki bahan bakar sepeda motor yang menyebabkan BBM mengalir ke bagian mesin. Percikan api muncul saat kendaraan dinyalakan sehingga memicu kebakaran.
Merespons kondisi tersebut, petugas SPBU langsung menjalankan prosedur tanggap darurat secara cepat dan terkoordinasi, mulai dari penghentian operasional melalui emergency shut-off, pelepasan nozzle, hingga pemberian peringatan darurat.
“Penanganan dilanjutkan dengan pemadaman menggunakan APAR dan APAB, evakuasi korban dan kendaraan ke area aman, serta pengaktifan tim penanggulangan keadaan darurat,” katanya.
Menurut Agoeng, simulasi tersebut juga menjadi sarana evaluasi berkelanjutan untuk memperkuat budaya HSSE di lingkungan operasional. Dengan demikian, aspek keselamatan tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga teruji dalam praktik di lapangan, mulai dari pencegahan, penanganan, hingga pemulihan.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan simulasi penanggulangan keadaan darurat merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam memperkuat budaya keselamatan sekaligus memberikan rasa aman kepada masyarakat.
“Kami ingin memastikan setiap potensi risiko di SPBU telah diantisipasi dengan sistem, prosedur, dan kesiapan personel yang terstandar,” ujarnya. (rdr/ant)











