PADANG, RADARSUMBAR.COM – Ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) asal Sumatera Barat meningkat signifikan di tengah eskalasi konflik global, termasuk di kawasan Timur Tengah.
Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur, Fauzi, mengatakan kondisi global justru mendorong kenaikan harga sekaligus volume ekspor CPO.
“Dengan adanya konflik global, itu berdampak pada kenaikan harga CPO,” kata Fauzi di Padang, Kamis.
Berdasarkan data PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur, hingga Maret 2026 volume ekspor CPO mencapai 875.559 ton, meningkat dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 648.606 ton.
Peningkatan ekspor tersebut terutama ditopang permintaan dari India dan Pakistan.
Sejak konflik di Timur Tengah meningkat, eksportir CPO disebut berlomba-lomba mengirim komoditas unggulan tersebut ke pasar internasional. Sepanjang 2025, total ekspor CPO melalui Teluk Bayur bahkan mencapai 3.151.458 ton.
Meski demikian, Fauzi memastikan konflik antara Iran dengan Amerika Serikat serta sekutunya, Israel, tidak berdampak signifikan terhadap aktivitas bongkar muat maupun ekspor-impor di pelabuhan tersebut.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat nilai ekspor provinsi tersebut pada Januari–Februari 2026 mencapai Rp10,4 triliun, atau naik 42,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Februari 2026 saja, nilai ekspor tercatat lebih dari Rp5 triliun, meningkat 8,54 persen secara tahunan. India dan Pakistan masih menjadi tujuan utama ekspor dengan kontribusi masing-masing sekitar Rp3 triliun dan lebih dari Rp2 triliun. (rdr/ant)












