JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – PT Kia Sales Indonesia (KSI) menyatakan kendaraan bermesin diesel yang dipasarkannya siap menggunakan bahan bakar B50. Namun, perusahaan masih menunggu kepastian regulasi serta spesifikasi bahan bakar yang akan diterapkan pemerintah secara nasional.
Vice President Operations KSI Harry Yanto mengatakan pemerintah telah melakukan serangkaian pengujian terhadap B50 sebelum bahan bakar tersebut diterapkan secara luas.
Menurut dia, pengujian dilakukan pada berbagai model kendaraan yang beredar di Indonesia dengan jarak tempuh hingga 50.000 kilometer.
“Pengujian dilakukan secara komprehensif, termasuk uji performa pada suhu rendah sekitar 5 derajat Celsius untuk memastikan karakteristik bahan bakar tetap stabil dan tidak mengalami pembekuan,” kata Harry di sela kegiatan media drive All-New Seltos di Bogor, Sabtu (18/7).
Harry mengatakan masih banyak konsumen yang belum memahami komposisi B50. Menurutnya, B50 tidak mengandung 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit seperti yang banyak dipersepsikan masyarakat.
Ia menjelaskan formulasi B50 terdiri atas sekitar 35 persen fatty acid methyl ester (FAME) berbasis minyak sawit dan 15 persen hydrotreated vegetable oil (HVO), sedangkan sisanya merupakan solar fosil.
Menurut Harry, penggunaan HVO menjadi pembeda utama dibandingkan campuran biodiesel sebelumnya karena memiliki karakteristik yang lebih baik dalam menjaga sistem bahan bakar.
Meski biaya produksinya lebih tinggi dibandingkan FAME, HVO dinilai mampu mengurangi potensi korosi sekaligus menjaga kinerja sistem injeksi pada mesin diesel modern.
“Nah, bedanya antara B40, B30 dengan B50 ini, dia tidak menggunakan 50 persen dari palm oil. Jadi kalau tidak salah itu 35 persen palm oil, 15 persen HVO. HVO ini memang harganya sedikit lebih mahal, tapi dia bagus untuk campuran solar sehingga tidak menyebabkan korosi yang lebih parah di saluran bahan bakar,” ujarnya.
Meski demikian, KSI masih menunggu kepastian pemerintah terkait implementasi B50, terutama untuk kendaraan yang telah memenuhi standar emisi Euro 4.
Perusahaan menjelaskan mesin diesel common rail bertekanan tinggi yang digunakan saat ini tetap direkomendasikan menggunakan Pertamina Dex karena memiliki kandungan sulfur di bawah 50 ppm, sesuai kebutuhan mesin diesel berstandar Euro 4.
Di pasar Indonesia, model diesel yang masih dipasarkan KIA saat ini adalah Carnival Diesel yang telah menggunakan mesin diesel common rail berstandar Euro 4.
Sebelumnya, KIA juga memasarkan Seltos Diesel, Sorento Diesel, Sportage Diesel, serta generasi sebelumnya dari Carnival Diesel, namun model-model tersebut kini sudah tidak lagi dijual.
KSI menilai kendaraan diesel modern pada dasarnya siap mengikuti perkembangan kualitas bahan bakar. Namun, sistem injeksi, filter, dan saluran bahan bakarnya lebih sensitif dibandingkan mesin diesel generasi lama karena harus memenuhi standar emisi Euro 4.
Di sisi lain, distribusi bahan bakar rendah sulfur di Indonesia masih berlangsung secara bertahap.
Berdasarkan informasi yang diterima industri melalui Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), ketersediaan solar berstandar Euro 4 secara nasional diperkirakan baru akan merata pada akhir 2027. (rdr/ant)










