JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan pasokan minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) untuk mendukung implementasi mandatori biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026 dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan nasional.
Amran mengatakan pemerintah telah menyiapkan seluruh kebutuhan bahan baku sehingga masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan ketersediaan CPO untuk program biodiesel.
“Oh aman, (pasokan CPO) lebih. Sudah aman,” kata Amran kepada wartawan di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, produksi CPO nasional terus meningkat. Kenaikan produktivitas tersebut tercermin dari volume ekspor yang meningkat dari sekitar 26 juta ton menjadi 32 juta ton.
Dengan peningkatan produksi tersebut, pemerintah memastikan kebutuhan CPO untuk program biodiesel B50 tetap terpenuhi tanpa mengganggu pasokan bagi kebutuhan domestik maupun komitmen ekspor Indonesia.
Amran menjelaskan implementasi B50 bukan lagi tahap uji coba. Pemerintah hanya meningkatkan kadar campuran biodiesel dari B40 yang selama ini telah diterapkan.
“Kan bukan uji coba, sudah jalan. Sudah jalan B40, tinggal naik B50. Ini sudah jalan, sudah running,” ujarnya.
Ia menegaskan masyarakat akan memperoleh bahan bakar B50 sesuai kebijakan pemerintah karena seluruh persiapan menjelang implementasi pada 1 Juli telah rampung.
Menurut Amran, penerapan mandatori B50 menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian energi nasional melalui pengurangan ketergantungan terhadap impor solar.
Selain itu, Amran memastikan implementasi B50 tidak akan mengganggu pasokan minyak goreng nasional. Menurut dia, produksi minyak sawit Indonesia masih surplus sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, mendukung program biodiesel, sekaligus menjaga ekspor.
Produksi CPO nasional saat ini mencapai sekitar 52 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 juta ton dialokasikan untuk kebutuhan minyak goreng domestik, sementara ekspor diperkirakan mencapai 32 juta ton seiring meningkatnya produktivitas perkebunan sawit.
Untuk mendukung program B50, pemerintah memperkirakan kebutuhan CPO mencapai sekitar 5,3 juta ton. Dengan kapasitas produksi saat ini, pemerintah optimistis implementasi B50 dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan minyak goreng dan keberlanjutan ekspor sawit Indonesia.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kebijakan biodiesel B50 atau campuran 50 persen CPO dalam solar akan mulai diberlakukan untuk menghemat subsidi energi hingga sekitar Rp48 triliun.
Menurut Airlangga, PT Pertamina (Persero) telah siap mengimplementasikan kebijakan tersebut. Penerapan B50 juga diperkirakan mampu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) fosil hingga 4 juta kiloliter per tahun.
“Dalam enam bulan akan ada penghematan dari fosil dan juga penghematan subsidi biodiesel yang diperkirakan nilainya Rp48 triliun,” kata Airlangga.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan implementasi B50 akan membuat Indonesia mengalami surplus solar pada 2026, seiring mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur. (rdr/ant)











