LIFESTYLE

Psikolog Ingatkan Bahaya Asal Melabeli Hubungan sebagai Toxic

×

Psikolog Ingatkan Bahaya Asal Melabeli Hubungan sebagai Toxic

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi hubungan toxic. (Foto: Ist)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Istilah “toxic” semakin sering digunakan di media sosial untuk menggambarkan perilaku atau hubungan yang dianggap tidak sehat. Namun, psikolog mengingatkan bahwa tidak semua konflik, perbedaan pendapat, atau perilaku yang membuat seseorang tidak nyaman dapat langsung disebut sebagai hubungan toxic.

Psikolog Lisa Liggins-Chambers, Ph.D., melalui Psychology Today pada Minggu (5/10) waktu setempat, mengatakan media sosial membuat berbagai istilah psikologi semakin dikenal masyarakat. Di sisi lain, penggunaan istilah tersebut tanpa memahami konteks dapat membuat persoalan dalam hubungan terlihat lebih sederhana daripada kondisi sebenarnya.

“Tidak semua perilaku yang tidak sehat adalah toxic, dan tidak semua perilaku yang sulit berarti dilakukan dengan sengaja atau dilandasi niat buruk,” tulis Liggins-Chambers.

Menurut dia, pengalaman masa lalu seseorang dapat memengaruhi cara seseorang memahami situasi dan merespons orang lain. Perilaku yang terlihat mengontrol, menjaga jarak, atau sulit mempercayai orang lain, misalnya, bisa saja berkaitan dengan pengalaman traumatis.

Baca Juga  Psikolog Ungkap Penyebab Burnout pada Pekerja Muda, Media Sosial jadi Pemicu

Namun, memahami latar belakang seseorang bukan berarti membenarkan perilaku yang merugikan orang lain. Seseorang tetap dapat menetapkan batasan dan mempertimbangkan dampak perilaku tersebut terhadap dirinya.

Liggins-Chambers juga mengingatkan agar seseorang tidak terburu-buru mengakhiri hubungan hanya karena merasa tidak nyaman.

Perbedaan pendapat dan konflik merupakan bagian dari hubungan. Karena itu, kemampuan untuk berkomunikasi, menerima kritik, meminta maaf, serta memperbaiki hubungan juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Sebelum memberi label “toxic”, ia menyarankan seseorang melihat kembali apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dirinya turut berperan dalam konflik tersebut.

Menurut Liggins-Chambers, ada empat hal yang dapat menjadi bahan refleksi, yakni hubungan dengan orang tersebut, reaksi diri terhadap situasi, peran masing-masing dalam konflik, serta kemungkinan untuk memperbaiki hubungan.

Baca Juga  Wamendikdasmen Ingatkan Pentingnya Bijak Bermedia Sosial di Era Digital

Istilah “toxic” di media sosial

Liggins-Chambers mengatakan media sosial turut mendorong munculnya istilah seperti “protect your peace”, “cut-off culture”, dan “no-contact” sebagai cara menghadapi hubungan yang dianggap tidak sehat.

Langkah-langkah tersebut memang dapat diperlukan ketika seseorang perlu melindungi diri dan menetapkan batasan. Namun, istilah tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk setiap perselisihan atau kekecewaan.

“Ketidaknyamanan bukan selalu bukti adanya perilaku toxic,” tulisnya.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat melihat konteks di balik suatu perilaku dan memahami bagaimana pengalaman pribadi dapat memengaruhi penilaian terhadap orang lain.

Menurutnya, memahami hubungan secara lebih utuh dapat membantu seseorang membedakan antara hubungan yang memang merugikan dan hubungan yang sebenarnya sedang menghadapi konflik yang masih dapat diperbaiki. (rdr/ant)