KESEHATAN

Psikolog Ungkap Penyebab Burnout pada Pekerja Muda, Media Sosial jadi Pemicu

×

Psikolog Ungkap Penyebab Burnout pada Pekerja Muda, Media Sosial jadi Pemicu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kesehatan mental. (Foto: Ist)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Psikolog klinis Phoebe Ramadina M.Psi., Psikolog, menyoroti kondisi burnout di lingkungan kerja yang rentan dialami pekerja muda akibat tekanan karier hingga pengaruh media sosial.

Menurut Phoebe, pekerja muda lebih rentan mengalami burnout karena berada pada fase membangun karier dan merasa harus terus membuktikan diri.

“Ditambah lagi, tekanan dari media sosial membuat banyak orang merasa tertinggal jika tidak terus produktif,” kata Phoebe di Jakarta, Kamis.

Phoebe menjelaskan kondisi burnout erat kaitannya dengan fenomena hustle culture di lingkungan kerja. Hustle culture merupakan pola pikir yang mendorong seseorang untuk terus bekerja dan produktif tanpa henti demi dianggap sukses.

Padahal, jika dijalani terus-menerus tanpa istirahat cukup, kondisi tersebut dapat memicu kelelahan kronis atau burnout, yakni kelelahan emosional, mental, dan fisik akibat stres kerja berkepanjangan.

“Jika burnout tidak ditangani, maka dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup secara keseluruhan,” ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.

Phoebe mengatakan tanda-tanda burnout biasanya ditandai dengan mudah lelah, lebih sensitif, sulit fokus, kehilangan motivasi kerja, mudah emosional, hingga gangguan tidur dan keluhan fisik.

Baca Juga  Layanan Bedah Anak Semen Padang Hospital, Tangani Berbagai Kasus Sejak Usia Dini

Ia menilai berbagai tekanan tersebut membuat pekerja muda perlu membangun batasan yang sehat antara produktivitas dan waktu istirahat.

Saat mulai merasa burnout, kata dia, penting bagi individu untuk berhenti sejenak dan mengenali hal-hal yang paling menguras energi.

“Individu perlu mulai mengevaluasi sumber kelelahan, misalnya beban kerja, kurang istirahat, tekanan relasi kerja, atau hilangnya keseimbangan hidup,” ujarnya.

Phoebe menyarankan pekerja mulai mengatur ulang pola istirahat, batas kerja, serta memberi ruang untuk pemulihan emosional.

Menurut dia, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental dan pola hidup seimbang dapat membantu mengurangi stres apabila dilakukan secara sehat dan konsisten.

Namun, ia mengingatkan bahwa menjaga kesehatan mental sebaiknya tidak sekadar mengikuti tren, melainkan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu agar berdampak sehat dan berkelanjutan.

Phoebe juga menilai aktivitas healing atau liburan tidak selalu mampu menyelesaikan akar masalah jika sumber stres utama, seperti lingkungan kerja yang toksik atau tidak adanya batasan kerja yang sehat, tetap terjadi.

Lebih lanjut, ketika kelelahan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, individu disarankan mencari bantuan profesional, seperti berkonsultasi dengan psikolog klinis untuk menemukan mekanisme coping yang lebih sehat.

Baca Juga  Menkomdigi Minta Orang Tua Awasi Anak dari Paparan Judi Online di Medsos

“Penting dipahami bahwa kesehatan mental bukan hanya soal tren atau self-care sesaat,” kata psikolog yang berpraktik di Personal Growth tersebut.

Sebelumnya, WHO melaporkan kondisi mental seperti depresi dan kecemasan meningkat lebih dari 25 persen pada tahun pertama pandemi COVID-19, sehingga menambah beban tenaga kerja global.

Di Indonesia, survei nasional mencatat sekitar 6 persen kaum muda mengalami depresi.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun menyoroti perlunya penguatan layanan kesehatan jiwa bagi pekerja karena berkaitan dengan keselamatan kerja, retensi staf, kualitas layanan publik, hingga produktivitas dan ekonomi nasional.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes dr. Imran Pambudi mengatakan sejumlah langkah praktis dapat dilakukan, mulai dari memasukkan skrining psikososial dalam program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Selain itu, perusahaan juga perlu melatih manajer untuk mengenali tanda stres, memperluas jaminan sosial bagi pekerja informal, serta menerapkan kebijakan ramah keluarga guna menurunkan risiko gangguan mental dan meningkatkan produktivitas. (rdr/ant)