JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Warga sipil di Gaza terus menghadapi serangan militer, gempuran artileri, tembakan senjata api, dan serangan angkatan laut Israel, sementara Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan sedikitnya 300 anak tewas dalam 300 hari sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025.
UNICEF menyebut rata-rata satu anak meninggal setiap hari selama periode tersebut. Di tengah situasi itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan lembaga-lembaga PBB bersama mitra kemanusiaan terus berupaya meningkatkan penyaluran bantuan.
“Saat anak-anak terus hidup di bawah kondisi yang sulit, termasuk tempat pengungsian yang kelebihan kapasitas tampung serta akses yang minim terhadap air bersih dan layanan kesehatan, PBB beserta para mitra kemanusiaan berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan bantuan,” kata OCHA.
Pekan lalu, mitra perlindungan anak mendistribusikan lebih dari 800 perlengkapan kebersihan, wadah air, dan deterjen kepada 50 keluarga pengungsi, termasuk anak-anak dan pengasuh. Selain itu, sebanyak 300 kartu identitas anak dan 500 buku tulis juga disalurkan.
“Bulan lalu, para mitra menyalurkan bantuan tunai, perangkat bantu, alat bantu jalan, popok, kasur medis, dan layanan rehabilitasi kepada lebih dari 500 anak penyandang disabilitas,” kata OCHA.
Untuk mendukung penanganan kekerasan berbasis gender, para mitra kemanusiaan juga membuka ruang aman baru di Kegubernuran Gaza Utara pada pekan lalu. Fasilitas tersebut menyediakan ruang yang aman dan menjaga kerahasiaan bagi perempuan dan anak perempuan untuk memperoleh dukungan serta berbagi pengalaman.
Menurut OCHA, sekitar 8.400 perempuan dan anak perempuan mengikuti berbagai kegiatan di 85 ruang aman yang beroperasi di seluruh Gaza setiap pekan. Organisasi-organisasi kemanusiaan menegaskan perluasan layanan tersebut memerlukan tambahan pendanaan dan akses yang aman ke seluruh wilayah.
Sementara itu, di Tepi Barat, sekelompok pemukim Israel dilaporkan membakar sejumlah rumah di komunitas Palestina di Tuba, kawasan Masafer Yatta, Hebron, pada Rabu (5/8) malam waktu setempat.
Insiden tersebut memaksa tiga keluarga, termasuk 14 anak, mengungsi ke rumah kerabat dan tetangga. Sejumlah warga mengalami luka-luka, termasuk dua anak, sementara sistem tenaga surya, 10 ton pakan ternak, dan berbagai harta benda lainnya dilaporkan musnah.
OCHA mencatat lebih dari 1.380 insiden yang melibatkan pemukim Israel selama Januari hingga Juli 2026. Insiden-insiden tersebut mengakibatkan korban jiwa, kerusakan harta benda, atau keduanya, dengan rata-rata sekitar 6,6 kejadian per hari di 250 komunitas Palestina.
Dalam periode yang sama, lebih dari 2.300 warga Palestina dilaporkan mengungsi akibat serangan para pemukim dan pembatasan akses. (rdr/ant)











