BERITA

40 Tahun Chernobyl: Hewan-Hewan Ini Justru Berkembang di Zona Maut

×

40 Tahun Chernobyl: Hewan-Hewan Ini Justru Berkembang di Zona Maut

Sebarkan artikel ini
Lokasi bekas pembangkir nuklir Chernobyl yang kini menjadi "kota hantu" di dekat kota Prypyat, Ukraina. (Foto: Dok AP)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Ledakan reaktor nuklir Chernobyl pada 26 April 1986 meninggalkan dampak jangka panjang yang masih dapat diamati hingga kini. Selama hampir empat dekade, zona eksklusi di sekitar pembangkit nuklir tersebut tetap menjadi rumah bagi berbagai spesies hewan dan tumbuhan yang beradaptasi dengan lingkungan radioaktif.

Dilansir dari BBC, Senin (4/5/2026), wilayah seluas sekitar 60 kilometer dari reaktor yang hancur itu kini dihuni berbagai spesies liar. Namun, para peneliti masih menemukan sejumlah anomali, seperti pohon yang tumbuh bengkok, burung dengan tumor, hingga jamur hitam di reruntuhan reaktor.

Penelitian Katak Chernobyl

Ahli biologi evolusi dari Stasiun Biologi Doñana, Spanyol, Pablo Burraco, bersama timnya meneliti lebih dari 250 katak pohon dari berbagai tingkat paparan radiasi di Ukraina utara.

Penelitian tersebut bertujuan melihat dampak radiasi terhadap warna kulit katak pohon timur (Hyla orientalis).

“Tujuan kami adalah meneliti bagaimana paparan radiasi memengaruhi warna kulit punggung katak,” ujar Burraco dalam studinya.

Hasilnya menunjukkan bahwa katak di wilayah terdampak memiliki warna kulit lebih gelap, yang berkaitan dengan kadar melanin lebih tinggi.

Baca Juga  Teroris di Sumbar Diduga Rekrut Anak-anak, Begini Respons KPAI!

Menurut Burraco, melanin diduga dapat melindungi tubuh dari radiasi dengan menetralkan radikal bebas dan mengurangi kerusakan DNA.

“Paparan radiasi tingkat tinggi kemungkinan telah menyebabkan seleksi warna kulit yang lebih gelap,” jelasnya.

Meski demikian, para peneliti menegaskan masih diperlukan studi lanjutan untuk memastikan mekanisme evolusi tersebut.

Dampak pada Flora dan Fauna

Peneliti dari McMaster University, Carmel Mothersill, mencatat bahwa sebagian pohon pinus yang sensitif terhadap radiasi mati setelah kecelakaan terjadi.

“Hutan itu masih dipenuhi satwa liar, tetapi tidak sama seperti sebelum insiden,” ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah spesies justru berkembang pesat. Populasi serigala diperkirakan tujuh kali lebih tinggi dibandingkan kawasan konservasi lain. Selain itu, rusa, babi hutan, dan kijang juga meningkat signifikan.

Spesies seperti lynx Eurasia bahkan kembali muncul setelah sebelumnya dinyatakan hilang dari wilayah tersebut.

Selain itu, anjing-anjing liar yang merupakan keturunan hewan peliharaan yang ditinggalkan pascabencana juga banyak ditemukan di kawasan tersebut.

Baca Juga  Hadiri Halalbihalal NU Se-Jawa Tengah, Menteri Nusron: Tekankan Prinsip Keadilan, Pemerataan, dan Kesinambungan Ekonomi dalam Penataan Pertanahan

Adaptasi terhadap Radiasi masih Diperdebatkan

Sejumlah penelitian menunjukkan kemungkinan adanya adaptasi biologis pada tumbuhan dan hewan di Chernobyl, meski masih menjadi perdebatan ilmiah.

Studi tahun 2012 menemukan kedelai di wilayah tersebut memiliki ketahanan lebih baik terhadap radiasi dan logam berat. Tikus sawah juga dilaporkan menunjukkan ketahanan lebih tinggi terhadap kerusakan DNA.

Namun, Mothersill menekankan pentingnya penelitian lanjutan terkait apakah mutasi akibat radiasi dapat diwariskan ke generasi berikutnya.

Penelitian tahun 2006 bahkan menemukan kelainan kromosom pada tikus sawah tetap muncul lintas generasi, meskipun sudah dipindahkan ke lingkungan bebas radiasi.

Dampak yang Lebih Luas

Dampak Chernobyl tidak hanya terbatas pada Ukraina. Jejak radionuklida dari peristiwa tersebut juga dilaporkan ditemukan pada jamur di Polandia, blueberry di Amerika Serikat, hingga kayu bakar di Yunani.

Sementara itu, kombinasi radiasi dan perubahan iklim juga disebut memperburuk kondisi beberapa spesies burung di kawasan terdampak, sehingga menurunkan peluang bertahan hidup mereka. (rdr/kmps)