EKONOMI

Presiden Prabowo Sebut Praktik Under-Invoicing Rugikan Negara Rp15.400 Triliun

×

Presiden Prabowo Sebut Praktik Under-Invoicing Rugikan Negara Rp15.400 Triliun

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo saat memberikan taklimat pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026). (Tangkapan Layar Youtube Setpres)
Presiden Prabowo Subianto. (Tangkapan Layar Youtube Setpres)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Presiden RI, Prabowo Subianto, mengungkap besarnya potensi kekayaan negara yang hilang akibat praktik manipulasi perdagangan ekspor selama puluhan tahun. Nilainya disebut mencapai USD908 miliar atau setara sekitar Rp15.400 triliun sepanjang periode 1991 hingga 2024.

Pernyataan itu disampaikan Presiden saat pidato dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM dan PPKF) RAPBN 2027 di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Menurut Prabowo, praktik tersebut bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan bentuk penipuan sistematis melalui manipulasi nilai ekspor, pengurangan jumlah barang yang dilaporkan, hingga rekayasa harga transaksi menggunakan perusahaan di luar negeri.

“Selama 34 tahun apa yang terjadi? Yang terjadi adalah apa yang disebut under-invoicing. Under-invoicing sebenarnya fraud atau penipuan,” ujar Prabowo.

Presiden menjelaskan, under-invoicing merupakan praktik melaporkan nilai barang lebih rendah dari harga sebenarnya dalam dokumen ekspor-impor. Selain itu, terdapat praktik under-counting atau pengurangan jumlah barang yang dilaporkan, serta transfer pricing melalui perusahaan afiliasi di luar negeri untuk menyamarkan keuntungan sebenarnya.

Menurutnya, modus tersebut membuat nilai ekspor Indonesia tercatat lebih kecil dibandingkan transaksi riil di negara tujuan sehingga negara kehilangan potensi penerimaan dalam jumlah besar selama bertahun-tahun.

Baca Juga  Utang Whoosh Tembus Rp116 Triliun, Prabowo Minta Menteri “Putar Otak” Cari Solusi

“Yang dijual oleh pengusaha-pengusaha tidak dilaporkan yang sebenarnya. Banyak di antara mereka membuat perusahaan di luar negeri. Dia jual dari perusahaan dia di dalam negeri ke perusahaan dia di luar negeri dengan harga jauh di bawah harga sebenarnya,” katanya.

Prabowo menegaskan data tersebut bersumber dari pencatatan resmi perdagangan internasional yang dihimpun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menyebut manipulasi mungkin dapat dilakukan di dalam negeri, tetapi tidak dapat disembunyikan di negara tujuan ekspor karena seluruh transaksi tetap tercatat.

“Kita bisa bohong di pelabuhan Indonesia. Kita kirim 10 ribu ton batu bara, yang dilaporkan hanya lima ribu ton. Bisa di Indonesia, tapi di sana tidak bisa, di sana dicatat,” ujarnya.

Presiden mengatakan praktik tersebut terjadi pada berbagai komoditas strategis nasional, mulai dari batu bara, kelapa sawit, hingga paduan besi dan komoditas ekspor lainnya.

“Itu adalah penipuan di atas kertas,” tegasnya.

Selain manipulasi perdagangan, Presiden juga menyoroti praktik penyelundupan yang masih terjadi melalui sejumlah pelabuhan. Karena itu, ia meminta lembaga strategis negara, khususnya sektor kepabeanan, melakukan pembenahan menyeluruh untuk memperkuat pengawasan dan tata kelola perdagangan nasional.

Baca Juga  Prabowo Larang Siswa Turun ke Jalan Sambut Presiden

“Kita harus berani mengatakan apa adanya. Kita harus perbaiki lembaga-lembaga pemerintah kita. Bea Cukai harus kita perbaiki,” kata Prabowo.

Presiden bahkan mengungkap pengalaman masa lalu ketika pemerintah mengambil langkah menyerahkan pengelolaan tertentu kepada pihak swasta karena buruknya tata kelola di sektor kepabeanan saat itu.

“Saya masih ingat di zaman Orde Baru, saking parahnya Bea Cukai, kita tutup. Kita outsourcing ke swasta. Dan penghasilan negara naik. Apa tidak sedih itu?” ujarnya.

Prabowo menilai potensi kekayaan negara yang hilang tersebut seharusnya dapat menjadi modal besar untuk mempercepat pembangunan nasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.

“Bayangkan kalau 908 miliar dolar kita nikmati, kita pakai, negara apa Indonesia ini,” kata Presiden.

Melalui pernyataan itu, Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa melakukan introspeksi dan memperkuat integritas tata kelola perdagangan nasional agar kekayaan sumber daya alam Indonesia benar-benar memberi manfaat optimal bagi rakyat. (rdr)