BERITA

AI jadi Kompetensi Wajib, Menaker Siapkan Tata Kelola untuk Dunia Kerja

×

AI jadi Kompetensi Wajib, Menaker Siapkan Tata Kelola untuk Dunia Kerja

Sebarkan artikel ini
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli. (ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan penguasaan keterampilan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi kunci meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di tengah perubahan kebutuhan industri dan pasar kerja digital.

Saat membuka AI Career Boost Day 2026 di Jakarta, Selasa, Yassierli mengatakan keterampilan AI kini menjadi nilai tambah utama dalam proses rekrutmen karena meningkatnya kebutuhan industri terhadap talenta digital di berbagai sektor.

“Saya sebelum jadi menteri banyak menjadi konsultan, lebih dari 50 perusahaan. Bagi saya sekarang no choice. Ada dua orang sama-sama punya kompetensi akuntansi, pasti pertanyaan saya adalah siapa yang lebih menguasai AI,” kata Yassierli.

Menurut dia, AI telah menjadi kompetensi yang dibutuhkan di hampir seluruh bidang pekerjaan, tidak hanya profesi yang berkaitan dengan teknologi informasi.

Ia menambahkan kemampuan memanfaatkan AI dapat dipelajari siapa saja, terlepas dari latar belakang pendidikan, selama memiliki kemauan untuk terus belajar.

“Jadi AI ini juga tidak harus dia menjadi lulusan teknik komputer dan seterusnya. Ini skill yang praktis yang bisa dipelajari oleh siapa pun, syaratnya tekun atau mau tidak,” ujarnya.

Baca Juga  Polisi Sudah Periksa 50 Saksi dalam Kasus Dugaan Ujaran Kebencian Bahar bin Smith

Yassierli kemudian menceritakan pengalamannya menghadiri pertemuan Menteri Ketenagakerjaan negara-negara BRICS di Hyderabad, India, yang dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan talenta digital dan AI dunia.

Menurut dia, Hyderabad menjadi lokasi berbagai pusat riset dan pengembangan perusahaan teknologi global, seperti Microsoft, Google, dan Medtronic, sehingga dijuluki “Cyberabad”.

Berdasarkan diskusi dengan pelaku industri di kota tersebut, rekrutmen talenta digital dan AI di India meningkat 11 persen dalam setahun terakhir. Sebaliknya, perekrutan untuk pekerjaan perkantoran (white collar) secara umum justru turun 9 persen.

Yassierli juga mengutip Future of Jobs Report 2030 dari World Economic Forum yang memproyeksikan akan muncul sekitar 170 juta pekerjaan baru, sementara 92 juta pekerjaan diperkirakan hilang akibat perkembangan teknologi.

Selain itu, sebagian besar keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja saat ini diperkirakan akan berubah dalam satu dekade mendatang sehingga pekerja dituntut terus meningkatkan kompetensinya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan tengah menyiapkan tata kelola AI yang berkaitan dengan dunia ketenagakerjaan.

Baca Juga  Menaker: Peningkatan Kompetensi dan Perlindungan Pekerja Kunci Daya Saing SDM

“Kedua, membangun kolaborasi dengan semua pihak, termasuk Microsoft. Terima kasih, tadi Microsoft mengatakan sudah melatih 50.000 orang pekerja yang terkait dengan angkatan kerja atau upskilling,” tuturnya.

Yassierli menambahkan, data LinkedIn menunjukkan permintaan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan digital dan AI di Asia Tenggara meningkat 2,4 kali lipat pada periode 2021–2023.

Menurut dia, tren tersebut diperkirakan akan terus berlanjut sehingga penguasaan AI menjadi keunggulan kompetitif bagi para pencari kerja.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keterampilan AI harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, empati, serta pengambilan keputusan.

Ia juga mengutip hasil survei yang menunjukkan sekitar 69 persen pimpinan perusahaan di Indonesia lebih memilih kandidat yang memiliki keterampilan AI. Namun, kemampuan interpersonal tetap menjadi faktor penting dalam proses rekrutmen dan dunia kerja.

Yassierli berharap AI Career Boost Day 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kompetensi tenaga kerja Indonesia agar semakin produktif, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat global. (rdr/ant)