GUNUNGSITOLI, RADARSUMBAR.COM — Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.
Bagi Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ini adalah momentum mendesak untuk menata ulang arah pembangunan, menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.
Masalah pendidikan di Kepulauan Nias hari ini bukan lagi soal jumlah sekolah. Akar persoalannya lebih dalam ketimpangan akses, kualitas, dan distribusi tenaga pendidik.
Di banyak wilayah, terutama untuk jenjang SD, SMP, SMA, fasilitas pendidikan belum merata. Akibatnya, tidak sedikit siswa yang harus menempuh jarak jauh, melewati medan berat, bahkan merantau hanya untuk melanjutkan sekolah. Ini bukan sekadar persoalan teknis. Ini soal keadilan.
Pemerataan pendidikan adalah kunci agar setiap anak, baik di kota maupun di desa, memiliki peluang yang sama untuk mengubah masa depan. Tanpa itu, kesenjangan akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam wawancara eksklusif, pemerhati pendidikan, Dr. H.C. Yusman Dawolo, M.Kom.I dengan Radarsumbar.com, Sabtu (2/5/2026), dia menegaskan pendidikan harus ditempatkan sebagai prioritas tertinggi dalam pembangunan daerah.
“Kalau kita ingin Gunungsitoli dan Kepulauan Nias maju, maka program pertama yang harus diutamakan adalah pendidikan.”
Pandangan ini bukan tanpa dasar. Realitas di lapangan menunjukkan masih banyak masyarakat yang hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat SMP, bahkan SD. Dengan kondisi seperti ini, sulit berharap lompatan kemajuan dalam 10–20 tahun ke depan.
Solusi yang ditawarkan pun tegas dan terukur, beasiswa pendidikan gratis 100% bagi keluarga kurang mampu, mulai dari TK hingga S1.
Gagasan ini mungkin terdengar ambisius, bahkan dianggap mustahil. Namun, menurutnya, ukuran “mungkin atau tidak” sangat bergantung pada keberanian dan visi pemimpin daerah.
“Ini soal pilihan. Apakah pemimpin mau berpikir untuk masa depan rakyat atau tidak. Kebijakan ini memang tidak populer karena hasilnya tidak instan, tapi dampaknya pasti,” jelas pendiri Pesantren Tahfidz Gaza International Standard Quality.
Ia juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur pendidikan yang terintegrasi. Setiap wilayah yang memiliki SD, seharusnya diikuti dengan keberadaan SMP dan SMA di sekitarnya. Dengan demikian, akses pendidikan tidak lagi menjadi hambatan utama.
Realitas di lapangan masih jauh dari ideal. Masih ada siswa yang berjalan kaki hingga lima kilometer, melewati jalan setapak, kebun, bahkan menyeberangi sungai, hanya untuk sampai ke sekolah. Ini bukan cerita lama, ini terjadi hari ini.
Di tengah keterbatasan tersebut, Yusman mengaku secara pribadi turut membantu pendidikan anak-anak Nias. Namun ia menyadari, upaya individu tidak akan pernah cukup.
“Saya membantu dari kantong pribadi. Tapi itu tidak bisa menjangkau semua. Berbeda dengan pemerintah, itu uang rakyat, dan sudah seharusnya kembali untuk rakyat,” tutur Yusman Dawolo, tokoh di Jakarta asal Kepulauan Nias.
Pengalaman hidupnya menjadi bukti nyata bahwa pendidikan mampu mengubah nasib. Lahir dari keluarga nelayan yang serba kekurangan, ia bisa menempuh pendidikan hingga S2 berkat beasiswa.
“Saya sudah merasakan sendiri dampaknya. Karena itu, saya ingin melakukan hal yang sama, membantu mereka yang hari ini sedang berjuang,” rekfleksi perjuangannya.
Lebih jauh, ia mengajak masyarakat yang telah berhasil untuk ikut ambil bagian. “Yang sudah mapan, di mana pun berada, ayo bantu. Berikan beasiswa. Kita tidak bisa hanya berharap pada pemerintah.”
Pesannya kepada generasi muda juga kuat dan penuh harapan, “Jangan putus asa. Bermimpilah besar untuk kuliah. Jangan takut karena tidak punya uang. Kalau ada kemauan, akan ada jalan. Percayalah, pertolongan itu nyata,” sebut peraih penghargaan Doktor Honoris Causa dari Universal Institute of Professional Management (UIPM) USA in Islamic Studies and Da’wah 2022.
Pada akhirnya, masa depan Nias tidak ditentukan oleh seberapa banyak acara seremonial yang diadakan, tetapi oleh seberapa banyak generasi muda yang diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.
Semakin banyak yang peduli, semakin besar dampaknya. Dan ketika pendidikan benar-benar dijadikan prioritas, kemajuan bukan lagi sekadar harapan, melainkan keniscayaan. (rdr-tanhar).











