PADANG, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah Kota (Pemko) Padang, Sumatera Barat, terus memperkuat lingkungan pendidikan yang sehat dan ramah anak guna mencegah praktik perundungan atau bullying di sekolah.
Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir mengatakan sekolah harus mampu menghadirkan rasa aman, nyaman, dan bahagia bagi peserta didik agar tumbuh menjadi generasi yang kuat secara karakter maupun emosional.
“Sekolah harus mampu menghadirkan rasa aman, nyaman dan bahagia bagi peserta didik agar tumbuh menjadi generasi yang kuat secara karakter maupun emosional,” kata Maigus di Padang, Minggu.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Pemkot Padang melalui Yayasan Pertiwi Kodya Padang bekerja sama dengan Departemen Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) menggelar seminar bertajuk Wujudkan Happy School, Happy Students.
Kegiatan yang diikuti 134 tenaga pendidik dari satuan pendidikan di bawah Yayasan Pertiwi Kodya Padang itu bertujuan meningkatkan kesejahteraan psikologis peserta didik sekaligus memperkuat kualitas pendidikan berbasis kesehatan mental.
Menurut Maigus, keberhasilan dunia pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik semata. Lingkungan belajar yang sehat secara mental dan sosial juga memegang peranan penting dalam membentuk karakter siswa.
Ia menilai kesuksesan anak dibentuk oleh ekosistem yang baik secara berkesinambungan, mulai dari keluarga, sekolah hingga lingkungan masyarakat. Karena itu, guru diharapkan tidak hanya hadir sebagai pengajar, tetapi juga menjadi figur orang tua bagi siswa.
“Anak yang sukses tumbuh dari lingkungan yang baik, mulai dari keluarga hingga sekolah dan masyarakat. Guru harus hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai orang tua bagi murid,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pertiwi Kodya Padang Dian Puspita menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang ramah anak dan bebas dari segala bentuk perundungan.
Menurutnya, praktik bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat muncul melalui ucapan maupun hukuman yang mempermalukan siswa di depan teman-temannya.
“Guru harus lebih peka terhadap dinamika psikologis anak zaman sekarang,” katanya.
Untuk mencegah perundungan, para guru didorong menerapkan pendekatan pendidikan yang lebih manusiawi, komunikatif, dan memperhatikan kondisi psikologis anak.
Dalam seminar tersebut, para tenaga pendidik juga mendapatkan pembekalan mengenai emotional freedom technique (EFT), yakni teknik pengelolaan emosi dan stres yang diharapkan dapat membantu guru maupun siswa di lingkungan sekolah.
“Pembekalan ini diharapkan menjadi langkah awal membangun budaya sekolah yang sehat dan menyenangkan di lingkungan Yayasan Pertiwi,” ujar Dian. (rdr/ant)












