BERITA

Peneliti Temukan Jejak Arecoline pada Gigi Manusia Purba Sulawesi

×

Peneliti Temukan Jejak Arecoline pada Gigi Manusia Purba Sulawesi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi manusia purba. (Foto: Ist)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bukti empiris bahwa manusia purba di Sulawesi telah mengunyah buah pinang sejak sekitar 25.000 tahun lalu.

Temuan tersebut diketahui melalui analisis terhadap kondisi gigi dua individu manusia purba yang ditemukan di Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan melalui analisis makroskopis dan mikroskopis terhadap bentuk serta kondisi gigi kedua individu tersebut.

Peneliti BRIN Fakhri menjelaskan penyelidikan berawal dari pengamatan terhadap kondisi gigi, termasuk tanda-tanda paleopatologi yang terlihat secara kasat mata.

“Jadi, dasar analisisnya kita itu sebenarnya dari analisis makroskopisnya. Jadi, sebelum kami masuk ke analisis mikroskopis, ada hasil pengamatan kasat mata dulu, termasuk pengamatan terhadap kondisi paleopatologinya,” ungkap Fakhri dalam siaran pers yang diterima di Makassar, Senin.

Penelitian tersebut bermula dari temuan pola keausan gigi yang tidak biasa pada kerangka manusia purba di Sulawesi.

Sampel pertama berasal dari Leang Bulu Bettue, Kabupaten Maros, yang diperkirakan hidup pada masa Pleistosen akhir sekitar 25.000 hingga 16.000 tahun lalu. Gigi individu tersebut menunjukkan pola keausan melingkar (circumferential wear) yang sangat parah dan tidak biasa pada bagian oklusal geraham.

Baca Juga  Tak Miliki Surat Resmi, 9 PMI yang Dideportasi Malaysia Dipulangkan BP2MI ke Daerah Masing-masing

Sementara itu, sampel kedua ditemukan di Leang Cappa Lombo, Kabupaten Bone. Individu tersebut berasal dari masa Holosen Tengah sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu. Pola keausan melingkar serupa ditemukan pada individu laki-laki dewasa berusia sekitar 33-50 tahun yang dikenal sebagai spesimen CPL-R2.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances tersebut mengungkap adanya jejak penggunaan zat psikoaktif dari pinang pada manusia purba di Sulawesi.

Peneliti Geoarkeologi dari Griffith University Australia Basran Burhan mengatakan pola keausan gigi yang tidak biasa tersebut awalnya diduga berkaitan dengan aktivitas menggunakan gigi sebagai alat bantu kerja.

“Waktu itu kita menganggap mungkin dipakai untuk memelintir kalau mau membuat tali atau semacamnya. Makanya tingkat keausan giginya sangat drastis, tidak normal,” kata Basran.

Hipotesis tersebut kemudian berubah setelah peneliti menemukan benda berbentuk bulat yang berada di dalam rongga mulut individu tersebut.

Untuk menguji dugaan tersebut, tim peneliti menggunakan metode analisis biomolekuler non-destruktif, yakni Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS).

Sampel karang gigi direndam dalam larutan khusus untuk mendeteksi residu kimia yang tersimpan di dalam jaringan gigi.

Hasil analisis mendeteksi keberadaan arecoline, yakni alkaloid utama yang terkandung dalam biji pinang (Areca catechu) dan diketahui memiliki sifat psikoaktif serta bekerja sebagai stimulan sistem saraf pusat.

Baca Juga  Tinjau Vaksinasi Serentak, Kapolri Instruksikan Akselerasi ke Lansia dan Anak-Anak

Peneliti Pusat Kolaborasi Riset Sulawesi Budianto Hakim mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan pinang sebagai zat stimulan telah berlangsung sejak masa prasejarah.

“Jadi sebelum manusia mengenal kafein, sebelum mengenal nikotin, zat adiktif yang pertama yang memberi stimulan pada saraf itu, yang pertama tertua adalah pinang. Sekitar 25 ribu tahun yang lalu,” tuturnya.

Percobaan lanjutan di laboratorium dengan mereplikasi kondisi rongga mulut juga menunjukkan bahwa mengisap buah pinang utuh, bahkan tanpa dicampur serbuk kapur seperti praktik modern, dapat melepaskan senyawa arecoline dalam jumlah yang cukup untuk memicu efek fisiologis pada tubuh manusia.

Peneliti Teknologi Litik dan Industri Alat Batu Prasejarah Universitas Hasanuddin Suryatman mengatakan temuan tersebut juga menunjukkan adanya kemungkinan keberlanjutan tradisi mengunyah pinang dari masa Pleistosen hingga era Toalean.

“Adanya tradisi mengunyah pinang dari dua masa Pleistosen hingga era Toalean ini menunjukkan, mungkin saja mereka berasal dari satu leluhur yang sama, terus berlanjut, dari budaya melukis sampai ke budaya Toalean,” kata Suryatman. (rdr/ant)