JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat 1.532 titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tersebar di sejumlah provinsi hingga 20 September 2026, meningkat 209 titik dibandingkan sehari sebelumnya.
Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan pemerintah terus memperkuat upaya penanganan karhutla, terutama di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Sumatera Selatan (Sumsel).
“Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Minggu (20/9) pukul 23.59 WIB, secara nasional terdeteksi 1.532 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence, meningkat 209 titik dibandingkan 1.323 titik pada Sabtu (19/9),” kata Ristianto.
Berdasarkan data hingga 20 September 2026, Kalteng memiliki 968 hotspot, Sumsel 285 hotspot, Kalimantan Barat (Kalbar) 98 hotspot, Kalimantan Selatan (Kalsel) 39 hotspot, Jambi 26 hotspot, dan Riau satu hotspot.
Ristianto menjelaskan Kalteng masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot high confidence terbanyak di antara enam provinsi prioritas, meskipun jumlahnya mulai menurun dibandingkan sehari sebelumnya.
Sementara itu, peningkatan jumlah hotspot yang cukup signifikan di Sumsel menjadi perhatian dalam penentuan prioritas operasi penanganan karhutla.
“Kementerian Kehutanan kembali menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan satu kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar,” katanya.
Menurut dia, satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, seluruh indikasi tetap diverifikasi melalui pemeriksaan di lapangan dan kondisi aktual.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyebut pemerintah terus mengerahkan seluruh kekuatan untuk menangani karhutla, termasuk 64 pesawat dan 54.394 personel yang tersebar di lokasi terdampak.
“Dari udara hingga darat, seluruh kekuatan terus bergerak. Semua dilakukan untuk memadamkan api, mengurangi dampak asap, dan yang terpenting, melindungi masyarakat dari ancaman karhutla,” kata Teddy dalam unggahan resmi yang dikutip dari Jakarta, Minggu.
Dia menjelaskan sejak Agustus 2026 sebanyak 64 pesawat telah dikerahkan untuk melakukan water bombing, didukung 54.394 personel gabungan yang terus bergerak di lapangan untuk menjangkau titik-titik kebakaran dan mencegah api semakin meluas. (rdr/ant)











