JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengimbau masyarakat, petani, dan korporasi mewaspadai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga akhir Oktober atau awal November 2026 seiring kondisi kering yang dipengaruhi El Nino.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan imbauan tersebut merujuk pemutakhiran informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan hujan alami diperkirakan datang lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.
“Revisi BMKG yang awalnya di awal Oktober sudah akan ada hujan alami, namun nampaknya hujan alami itu baru akan turun di akhir Oktober bahkan di awal November,” kata Raja Juli seusai rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap karhutla perlu dipertahankan dalam beberapa pekan mendatang karena El Nino masih berada pada intensitas sangat kuat.
“Artinya El Nino yang sangat kuat, El Nino yang sama dengan El Nino pada tahun 2015, ini akan masih bersama kita lebih kurang satu setengah bulan lagi,” ujarnya.
Raja Juli mengatakan partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah munculnya kebakaran baru selama periode kering tersebut.
“Saya mohon sekali ya, terutama disampaikan kepada teman-teman, kepada masyarakat, seperti saya katakan tadi karhutla ini masih akan bersama kita sampai Oktober atau awal November,” ucap Menhut.
Ia meminta masyarakat, petani, maupun korporasi tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu karhutla, termasuk pembakaran atau aktivitas yang melibatkan api.
“Jadi mohon, diimbau ya kepada masyarakat perorangan, petani, maupun korporasi, untuk tidak main api di masa El Nino yang sangat kuat ini,” kata Raja Juli.
Sejauh ini, pemerintah memprioritaskan pengendalian karhutla di enam provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan operasi pemadaman darat dan udara, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), terus dilakukan sesuai kondisi lapangan.
Kemenhut pada Selasa (15/9) juga menyatakan pengendalian karhutla diperkuat melalui respons cepat di lapangan, pemadaman darat, water bombing, patroli udara, pembasahan lahan, serta OMC sesuai kondisi meteorologis, terutama menyusul peningkatan titik panas di wilayah Kalimantan.
Raja Juli pada 31 Agustus 2026 mengatakan pemerintah memaksimalkan OMC, water bombing, dan satuan tugas darat selama September sebagai bagian dari strategi menghadapi periode rawan karhutla.
Sementara itu, BMKG dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026 yang dirilis 14 September mencatat sebanyak 80,7 persen wilayah Indonesia berdasarkan jumlah Zona Musim (ZOM), atau 564 ZOM, telah mengalami musim kemarau.
BMKG juga mencatat sebanyak 1.637 titik mengalami hari tanpa hujan kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. Pada saat yang sama, El Nino masih berada pada kategori sangat kuat dengan anomali suhu muka laut wilayah Nino 3.4 sebesar positif 2,76 derajat Celsius.
BMKG memprakirakan pada Dasarian II September hingga Dasarian I Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0-150 milimeter per dasarian.
Khusus Sumatera Selatan, BMKG setempat pada Selasa (15/9) menyebut potensi hujan di provinsi tersebut sangat kecil hingga November 2026.
Masyarakat setempat juga diimbau tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan atau kebun guna mencegah karhutla selama musim kemarau. (rdr/ant)











