JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok beras pemerintah sebanyak 4,6 juta ton masih aman untuk menghadapi dampak El Nino ekstrem dan berbagai tekanan global terhadap sektor pangan.
Menurut Amran, kondisi pangan nasional, khususnya beras, masih terjaga meski sejumlah negara menghadapi tekanan akibat krisis pangan, energi, dan air.
“Alhamdulillah pangan kita dalam kondisi aman, khususnya beras, di tengah goncangan dunia, krisis pangan, krisis energi, dan krisis air yang terjadi di belahan dunia,” kata Amran saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan fenomena El Nino menjadi salah satu tantangan berat bagi sektor pertanian karena berdampak terhadap produksi pangan. Meski demikian, ketersediaan stok beras nasional masih mencukupi kebutuhan masyarakat.
“Bahkan ada El Nino yang sangat ekstrem, ini terberat menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). (Namun) stok beras kita masih aman,” ujarnya.
Amran menyebut cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 4,6 juta ton yang tersimpan di gudang Perum Bulog menjadi salah satu penyangga untuk menghadapi musim kemarau dan dampak El Nino.
Menurut dia, kekuatan stok tersebut tercermin dari penyaluran CBP yang hingga pertengahan September 2026 telah mencapai lebih dari 2 juta ton.
Penyaluran tersebut antara lain berasal dari program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) periode Januari-Februari sebanyak 221,05 ribu ton dan periode Maret-September sebanyak 794 ribu ton.
Selain itu, bantuan pangan tahap pertama pada Februari-Maret telah mencapai 662,86 ribu ton. Sementara bantuan pangan tahap kedua periode Juli-September 2026 yang masih berjalan telah mencapai 584 ribu ton.
Melalui program bantuan pangan tersebut, penerima manfaat mendapatkan beras gratis sebanyak 10 kilogram per bulan.
“Terakhir, penyaluran bantuan bencana dan keadaan darurat 13,1 ribu ton dan golongan anggaran 58,9 ribu ton,” kata Amran.
Stok Beras Naik 18 Persen
Amran mengatakan stok beras pemerintah di Bulog pada September 2026 meningkat 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada September 2025, stok beras pemerintah tercatat sebanyak 3,9 juta ton, sedangkan pada September 2026 telah mencapai 4,6 juta ton.
Selain menjaga stok, pemerintah juga memantau perkembangan harga beras untuk menjaga stabilitas pangan nasional.
Bapanas menyatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi beras hingga Agustus 2026 menunjukkan tren penurunan, baik secara tahunan maupun bulanan.
Inflasi beras secara tahunan pada Agustus 2026 tercatat sebesar 2,77 persen, turun dari 3,10 persen pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, inflasi beras secara bulanan berada di level 0,42 persen pada Agustus 2026, turun dari 0,49 persen pada Juli 2026.
Bapanas menilai inflasi beras secara bulanan sepanjang 2026 masih relatif terkendali karena belum pernah menembus angka 1 persen. (rdr/ant)












