BERITA

Menkomdigi Dorong Digitalisasi Rantai Pasok MBG, Buka Peluang Ekonomi Lokal

×

Menkomdigi Dorong Digitalisasi Rantai Pasok MBG, Buka Peluang Ekonomi Lokal

Sebarkan artikel ini
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid momentum peringatan Hari Anak Nasional 2025 di Sekolah Rakyat Sentra Handayani, Jakarta Timur, Kamis (24/7/2025) mengatakan dalam regulasi PP Tunas, setiap platform digital memiliki klasifikasi batas usia anak yang berbeda-beda sesuai tingkat risikonya. (Foto: Amiriyandi/InfoPublik/Ditjen KPM)
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid. (Foto: Amiriyandi/InfoPublik/Ditjen KPM)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan digitalisasi dalam rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari produksi hingga distribusi, memastikan penyaluran bantuan tepat sasaran.

“Setiap tahapan program dapat dipantau secara transparan dan terukur. Ini penting agar manfaat Program Makan Bergizi Gratis benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan,” ujar Meutya saat meninjau Pesantren Al Ittifaq di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu.

Ia menjelaskan, melalui sistem digital terintegrasi, pemerintah dapat memantau ketersediaan bahan pangan, menjaga kualitas produk, serta memastikan distribusi berjalan tepat waktu.

Pengawasan berbasis data juga memungkinkan pemantauan secara real time sehingga potensi penyimpangan distribusi dapat ditekan, sekaligus meningkatkan efisiensi logistik.

Baca Juga  Atasi Kekurangan Dokter, Presiden Prabowo Siapkan Kampus Kedokteran Gratis

Menurut Meutya, data yang terkumpul menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat serta memperkuat akuntabilitas pelaksanaan program.

Selain itu, digitalisasi rantai pasok dinilai membuka dampak ekonomi yang lebih luas. Penataan distribusi memberi peluang pasar bagi petani, peternak, dan pelaku usaha lokal, sekaligus mendorong penyerapan produksi pangan dalam negeri secara berkelanjutan.

Namun, ia menekankan teknologi yang digunakan harus tepat guna dan sesuai kebutuhan di lapangan.

“Digitalisasi tidak boleh menjadi beban baru, tetapi harus menjadi alat yang mempermudah dan meningkatkan produktivitas,” katanya.

Meutya menambahkan, aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian, mulai dari pengendalian kualitas, optimalisasi rantai pasok, hingga pemanfaatan limbah produksi guna menjaga ketersediaan pangan bergizi sekaligus meminimalkan pemborosan.

Baca Juga  Prabowo Akan Evaluasi Program MBG Pascakasus Keracunan: “Jangan Sampai Dipolitisasi”

Evaluasi program, lanjutnya, dilakukan secara berkala berbasis data lapangan dengan melibatkan masukan dari daerah.

“Praktik yang terbukti efektif akan diperluas, sementara yang perlu diperbaiki akan terus disempurnakan,” ujarnya. (rdr/ant)