Oleh:
Dr. (H.C) Yusman Dawolo, M.Kom.I (Tokoh asal Kepulauan Nias)
Kita harus jujur. Selama ini Kota Gunungsitoli terlalu lama berjalan di tempat. Jalan diperbaiki sebagian, kantor dibangun seadanya, seremoni banyak dilakukan, tetapi kehidupan rakyat banyak belum berubah secara mendasar.
Harga sembako tetap mahal, lapangan kerja minim, pendidikan masih sulit dijangkau, dan banyak anak muda akhirnya pergi meninggalkan kampung halamannya karena merasa masa depan tidak ada di sini.
Masalah utama Gunungsitoli adalah karena selama ini Gunungsitoli belum dipimpin dengan visi besar dan strategi yang benar-benar berani. Kalau hanya sekadar menjalankan pemerintahan, siapa pun bisa. Karena sistem birokrasi memang sudah ada.
Tetapi untuk membuat kota maju, dibutuhkan pemimpin yang tidak biasa-biasa saja, tidak hanya menjaga stabilitas, melainkan pemimpin diatas rata-rata kebanyakan orang, yang berani membuat terobosan baru, berani mengambil risiko, dan berani mengubah arah.
Kota-kota besar di Indonesia tidak maju karena kebetulan. Mereka maju karena ada keputusan besar yang diambil. Bekasi, Karawang, dan Tangerang dahulu juga bukan daerah kaya. Tetapi mereka berani membuka kawasan industri, menarik investasi, membangun pendidikan, dan akhirnya rakyatnya mendapatkan pekerjaan dan penghasilan.
Sementara Gunungsitoli sampai hari ini masih sibuk membicarakan masalah yang sama dari tahun ke tahun. Kalau ini terus dibiarkan, maka 10–20 tahun lagi, Gunungsitoli hanya akan menjadi kota transit, rakyat mudanya pergi, yang tertinggal adalah kemiskinan dan ketergantungan.
Karena itu, ada tiga langkah besar yang harus dilakukan:
1. Gunungsitoli Harus Berhenti Menjadi Konsumen dan Mulai Menjadi Produsen
Salah satu penyebab utama mahalnya harga sembako di Gunungsitoli adalah karena hampir semuanya didatangkan dari luar. Beras dari luar, telur dari luar, ayam dari luar, minyak goreng dari luar, bahkan garam pun dari luar, dll.
Akibatnya sederhana, begitu ongkos kapal naik atau distribusi terganggu seperti kejadian bencana yang terjadi di Sibolga, Sumatera Utara, rakyat Gunungsitoli langsung menanggung mahalnya harga.
Ini tidak boleh terus terjadi. Gunungsitoli harus mulai mandiri. Pemerintah harus membuka minimal 100 hektar lahan baru pertanian produktif, membangun peternakan, tambak, dan sentra pangan lokal.
Masyarakat harus diajarkan bertani modern seperti yang dilakukan di Sragen, Klaten, atau daerah-daerah di Jawa yang mampu membuat hasil pertanian mereka melimpah.
Tidak cukup hanya bicara “ketahanan pangan” dalam rapat dan seminar. Yang dibutuhkan adalah sawah baru, bibit, pupuk, alat, irigasi, pelatihan, dan pasar.
Pemerintah juga harus membangun pasar induk. Karena selama ini harga terlalu mahal bukan hanya karena barang kurang, tetapi karena distribusi dan permainan tengkulak.
Bandung dan beberapa kota lain berhasil menekan harga dengan membangun pasar induk dan pusat distribusi. Pemerintah bisa melakukan intervensi ketika harga mulai tidak wajar.
Kalau rakyat bisa membeli beras, telur, dan minyak dengan harga lebih murah, itu jauh lebih berarti daripada sekadar pidato-pidato panjang.
Kota yang tidak mampu memberi makan rakyatnya sendiri tidak akan pernah benar-benar maju.
2. Gunungsitoli Harus Punya Kawasan Industri, Bukan Hanya Kantor dan Pertokoan
Masalah terbesar kedua adalah lapangan kerja. Hari ini terlalu banyak anak muda di Gunungsitoli yang tamat sekolah, tetapi tidak tahu harus bekerja di mana. Akhirnya mereka merantau, menganggur, atau bekerja seadanya.
Mengapa?
Karena Gunungsitoli belum punya mesin ekonomi. Kita tidak bisa berharap lapangan kerja lahir hanya dari kantor pemerintah, toko kecil, atau proyek sesaat. Itu tidak cukup.
Satu-satunya cara menciptakan puluhan ribu lapangan kerja adalah dengan membangun kawasan industri.
Lihat Cikarang, Kab. Bekasi. Dulu itu hanya daerah biasa. Tetapi setelah dibangun kawasan industri, ratusan pabrik masuk, jutaan orang bekerja, ekonomi tumbuh, perumahan berkembang, usaha kecil hidup, sekolah bertambah, rumah sakit bertambah. Hal yang sama terjadi di Karawang dan Batam.
Gunungsitoli tidak perlu meniru semuanya. Tetapi Gunungsitoli harus punya keberanian yang sama. Kita punya laut. Kita punya ikan. Kita punya potensi garam. Kita punya hasil bumi. Kita punya lokasi strategis di Kepulauan Nias.
Mengapa tidak dibangun, Industri pengolahan ikan, industri es dan cold storage, industri garam, industri pengolahan kelapa, karet, dan hasil pertanian, industri pembuatan kapal, kawasan logistik dan pelabuhan.
Bitung maju karena berani menjadi pusat industri perikanan. Mengapa Gunungsitoli tidak bisa? Kalau industri tumbuh, maka yang bergerak bukan hanya pabrik. Yang hidup juga pedagang, sopir, tukang bangunan, warung, kuliner, UMKM, rumah kontrakan, perumahan, sekolah dan seluruh ekonomi rakyat. Inilah yang disebut multiplier effect ekonomi.
Tanpa industri, Gunungsitoli akan terus menjadi kota yang miskin pekerjaan dan kaya pengangguran.
3. Pendidikan Harus Gratis dan Agresif, Karena Kemiskinan Dimulai dari Rendahnya Pendidikan
Kita juga harus berani mengakui bahwa salah satu akar kemiskinan di Gunungsitoli adalah pendidikan yang masih rendah. Kalau sebagian besar rakyat hanya tamat SD atau SMP, bagaimana mereka mau bersaing? Bagaimana mereka bisa menjadi pengusaha, insinyur, dokter, atau pemimpin?
Maka pendidikan tidak boleh lagi dianggap urusan biasa. Pendidikan harus dijadikan proyek besar kota ini. Sekolah harus gratis sampai SMA. Tidak boleh ada lagi anak putus sekolah karena tidak punya uang.
Harus ada program “Satu Rumah Satu Sarjana”. Setiap keluarga miskin harus dibantu agar minimal satu anaknya kuliah. Kota juga harus mengirim anak-anak terbaik yang berprestasi kuliah ke UI, ITB, IPB, UGM, ke dataran Sumatera, Jawa bahkan ke luar negeri, dengan syarat setelah lulus mereka wajib kembali membangun Nias.
Singapura melakukan ini puluhan tahun lalu. Mereka mengirim anak-anak terbaiknya belajar ke luar negeri, lalu dipulangkan untuk membangun negara.
Gunungsitoli juga harus berani mendirikan universitas negeri sendiri. Datangkan doktor, profesor, dan tenaga ahli dari luar. Jangan biarkan anak-anak Nias terus kalah karena akses pendidikan yang tertinggal.
Kalau hari ini kita gagal membangun pendidikan, maka 20 tahun lagi kita hanya sedang mewariskan kemiskinan kepada generasi berikutnya.
Yang dibutuhkan Gunungsitoli bukan Pemimpin yang Biasa saja, Tetapi Pemimpin yang Berani Mengubah Keadaan
Gunungsitoli tidak kekurangan potensi. Yang kurang adalah keberanian untuk berpikir besar, berfikir jangka panjang dan membuat karya yang besar yang bermanfaat.
Kita terlalu lama puas dengan program kecil, target kecil, dan mimpi kecil. Padahal kota ini bisa jauh lebih besar. Tetapi itu hanya akan terjadi kalau ada pemimpin yang mampu menarik investor, berani membuka kawasan industri, berani membangun pertanian besar, berani menggratiskan pendidikan dan ingin membangun masa depan generasi berikutnya, bukan hanya untuk jabatan lima tahun.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan seberapa banyak seremonial kegiatan yang dilakukan, tetapi sederhana, apakah rakyatnya lebih mudah mencari kehidupan, mendapatkan pekerjaan, anak-anaknya bisa sekolah diperguruan tinggi, dan tentu saja melihat wajah baru Kota Gunungsitoli yang lebih modern.
Jika hal itu bisa dijawab “ya”, maka Gunungsitoli akan benar-benar maju. (rdr)











