GUNUNGSITOLI, RADARSUMBAR.COM – Sebanyak tujuh satwa dilindungi mewarnai peringatan Hari Kartini 2026 di Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara, melalui aksi pelepasliaran penyu ke habitat alaminya di lepas pantai Muara Sungai Nou, Selasa (21/4/2026).
Kegiatan tersebut dilakukan oleh Ketua TP PKK Kota Gunungsitoli, Ny. Veny Sowa’a Laoli, bersama Komunitas Sahabat Venny sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.
Ketujuh penyu tersebut terdiri dari jenis penyu lekang (lepidochelys olivacea) dan penyu sisik (eretmochelys imbricata) yang sebelumnya berhasil diselamatkan dari nelayan. Penyu-penyu itu sempat tersangkut di jaring tangkap, kemudian ditebus sebagai upaya penyelamatan agar tidak diperjualbelikan, dikonsumsi, maupun dimanfaatkan bagian tubuhnya.
Veny Sowa’a Laoli menegaskan ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam menjaga kelestarian satwa laut yang terancam punah. Ia menilai langkah kecil seperti pelepasliaran dapat memberi dampak besar bagi keberlanjutan ekosistem.
“Pelepasliaran atau rilis ini menjadi wujud kepedulian kita terhadap lingkungan, sekaligus mengajak masyarakat untuk tidak lagi mengonsumsi daging maupun telur penyu,” ujarnya.
Veny menekankan pentingnya menjaga kebersihan pesisir dan laut sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Karena pelestarian penyu tidak hanya menyangkut satu spesies, tetapi juga menyangkut keseimbangan ekosistem laut secara menyeluruh.
Kolaborasi antara TP PKK, Sahabat Venny, dan Rumah Penyu Nias telah berjalan sejak 2022. Dalam kurun waktu tersebut, mereka telah melepas lebih dari 1.000 ekor tukik hasil penetasan serta sekitar 60 ekor penyu dewasa yang berhasil diselamatkan dan dikembalikan ke habitat aslinya.
Perwakilan Sahabat Venny, Bayu Amalia, turut mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam aksi pelestarian lingkungan tersebut.
“Sinergi antara masyarakat, komunitas, dan nelayan menjadi kunci keberhasilan upaya konservasi,” tutur Bayu, Rabu (22/4/2026).
Tampak Pastor Johannes Martin Hammerle, OFM Cap turut hadir, dan mendoakan agar penyu-penyu tersebut dapat kembali dan bertahan di habitatnya sekaligus menegaskan bahwa semangat Kartini tidak hanya relevan dalam perjuangan sosial, tetapi juga dalam menjaga kelestarian alam. (rdr/tanhar)











