BERITA

Jaringan Gas Rumah Tangga Diperluas, 1,45 Juta Sambungan Ditargetkan hingga 2029

×

Jaringan Gas Rumah Tangga Diperluas, 1,45 Juta Sambungan Ditargetkan hingga 2029

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi jaringan gas rumah tangga. (Foto: Ist)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah mempercepat pembangunan jaringan gas (jargas) rumah tangga untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap LPG.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengatakan target pembangunan jaringan gas pada periode 2025–2026 mencapai 119.379 sambungan rumah (SR) yang tersebar di 15 kabupaten/kota.

“Target tersebut meningkat dari sebelumnya 115.264 SR setelah adanya penambahan 1.765 SR di Kota Jambi, 2.000 SR di Kota Bontang, dan 350 SR di Kabupaten Gresik,” kata Qodari dalam konferensi pers Program Hasil Terbaik Cepat di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per 3 Agustus 2026, pembangunan 119.379 sambungan rumah tersebut telah memasuki tahap penyelesaian konstruksi.

Selain itu, pemerintah mulai membangun jaringan gas tahap pertama di Kabupaten Cirebon dengan target 41.043 sambungan rumah yang mencakup Kecamatan Gempol, Palimanan, Dukupuntang, dan Depok.

Menurut Qodari, proyek yang berlangsung berdasarkan kontrak 20 Mei hingga 31 Desember 2026 tersebut masih berada pada tahap awal, meliputi survei jalur, penentuan lokasi stasiun pengatur dan pengukur tekanan gas, serta pendataan calon pelanggan.

Baca Juga  Pertamina Sumbagut Blokir Pangkalan yang Diduga Oplos LPG Subsidi

Secara kumulatif hingga 2025, pembangunan jaringan gas nasional telah mencapai 949.008 sambungan rumah. Jumlah tersebut terdiri atas 703.308 sambungan yang didanai melalui APBN dan 245.700 sambungan melalui pendanaan non-APBN.

Untuk memperluas cakupan layanan, pemerintah menyiapkan pembangunan 959.232 sambungan rumah pada periode 2026–2028 di delapan kabupaten/kota.

Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Bogor sebanyak 182.665 sambungan rumah, Kota Depok 156.134 sambungan, Kabupaten Bekasi 120.691 sambungan, Kabupaten Cirebon 117.142 sambungan, Kabupaten Tangerang 100.247 sambungan, Kabupaten Lamongan 101.295 sambungan, Kabupaten Pasuruan 93.772 sambungan, dan Kabupaten Jombang 87.286 sambungan.

Qodari mengatakan dokumen Front End Engineering Design (FEED) dan Detail Engineering Design Construction (DEDC) untuk proyek tersebut telah disusun dan kini memasuki tahap persiapan pelaksanaan.

“Dengan demikian, pada periode 2025 hingga 2028, pembangunan jaringan gas ditargetkan mencapai 1.119.654 sambungan rumah,” ujarnya.

Untuk mendukung target tersebut, pemerintah menyiapkan tiga skema pendanaan, yakni melalui APBN, Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dan investasi badan usaha milik negara (BUMN).

Pada 2025, pembangunan 100.000 sambungan rumah didanai melalui investasi BUMN. Sementara pada 2026, pemerintah menargetkan pembangunan 150.000 sambungan melalui APBN, 50.000 sambungan melalui KPBU, dan 100.000 sambungan melalui investasi BUMN.

Baca Juga  Bikin Geger, Warga di Papua Barat Temukan Bom Bekas Perang Dunia Kedua

Selanjutnya, pada 2027, 2028, dan 2029, pemerintah menargetkan pembangunan masing-masing 350.000 sambungan rumah per tahun melalui kombinasi pendanaan APBN, KPBU, dan investasi BUMN.

Secara keseluruhan, pembangunan jaringan gas pada periode 2025–2029 diproyeksikan mencapai 1,45 juta sambungan rumah, terdiri atas 600.000 sambungan melalui APBN, 350.000 sambungan melalui KPBU, dan 500.000 sambungan melalui investasi BUMN.

Qodari mengatakan kebutuhan anggaran pembangunan dihitung dengan pendekatan sekitar Rp10 juta per sambungan rumah. Nilai tersebut akan disesuaikan dengan hasil perencanaan teknis, kondisi lapangan, lokasi pembangunan, serta proses pengadaan.

Ia memastikan ketersediaan gas domestik mencukupi untuk mendukung percepatan pengembangan jaringan gas rumah tangga. Menurutnya, sekitar 70–75 persen produksi gas nasional dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Pemerintah terus memastikan kesiapan pasokan berdasarkan ketersediaan sumber atau alokasi gas, volume dan profil kebutuhan pelanggan, kesinambungan pasokan selama umur operasi, serta kesiapan jaringan transmisi dan distribusi,” kata Qodari. (rdr/ant)