JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Presiden Prabowo Subianto mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat riset di berbagai bidang strategis guna mendukung terwujudnya kemandirian nasional, mulai dari sektor energi, pangan, kesehatan, hingga kedirgantaraan.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan Presiden memberikan perhatian besar terhadap pengembangan teknologi yang mampu memperkuat daya tahan Indonesia di tengah dinamika global, khususnya di sektor energi.
“Bapak Presiden juga tadi mencermati inovasi-inovasi BRIN dalam bidang energi, di mana BRIN diminta untuk terus mengkaji bagaimana mencapai kedaulatan energi, kemandirian energi karena kita tidak boleh tergantung dengan asing,” kata Arif usai menghadiri pertemuan Presiden Prabowo bersama para peneliti BRIN di Halaman Tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis.
Menurut Arif, Presiden secara khusus meminta BRIN mengkaji berbagai skenario kebijakan energi nasional, termasuk implikasi penerapan biodiesel B60, B100, dan bioetanol E30.
“Nah kemudian juga kembali soal energi tadi, kita diminta untuk mengkaji apa implikasi kalau kita terapkan B60, apa implikasi kalau kita terapkan B100, kemudian bagaimana kalau E30. Jadi BRIN diminta untuk mengkaji secara holistik policy terkait dengan energi ini,” ujarnya.
Selain itu, Presiden juga menaruh perhatian terhadap pengembangan teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG) yang dikembangkan BRIN untuk mengoptimalkan pemanfaatan gas alam domestik.
Arif mengatakan teknologi tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap LPG sekaligus menghemat beban subsidi hingga sekitar Rp26 triliun per tahun apabila diterapkan secara luas.
Di bidang kedirgantaraan, Presiden turut mencermati pengembangan pesawat N219 hasil kolaborasi BRIN dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).
BRIN juga tengah mengembangkan pesawat amfibi yang diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antarpulau tanpa memerlukan pembangunan landasan pacu.
“Nah ini risetnya sedang berlangsung dan mudah-mudahan ini bisa segera selesai. Setelah sertifikasi, pesawat ini dapat dikembangkan di Indonesia untuk mengatasi persoalan konektivitas antarpulau karena pesawat amfibi tidak memerlukan investasi pembangunan runway, melainkan memanfaatkan perairan sebagai lokasi lepas landas dan pendaratan,” kata Arif.
Presiden juga memberikan perhatian terhadap pemanfaatan teknologi nuklir di luar sektor energi. Menurut Arif, BRIN telah mengembangkan teknologi radiofarmaka untuk diagnosis dan terapi kanker, teknologi iradiasi pangan guna memperpanjang masa simpan komoditas ekspor, serta berbagai riset lain yang mendukung sektor kesehatan dan ketahanan pangan.
Selain itu, BRIN memamerkan sejumlah inovasi lain kepada Presiden, antara lain teknologi pengolahan sampah, rumah tahan gempa, material bangunan ramah lingkungan berbahan limbah sawit dan serabut kelapa, teknologi pengolahan air bersih, hingga sepatu berbahan baku karet dan limbah sawit untuk mendukung industri nasional.
Arif mengatakan perhatian Presiden terhadap berbagai hasil riset tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai fondasi kemandirian bangsa.
“Beliau selalu mengatakan bahwa penguasaan teknologi adalah soal martabat bangsa,” ujar Arif. (rdr/ant)












