EKONOMI

Harga Minyak Dunia Tembus 107 Dolar, Kementerian ESDM Pastikan BBM Subsidi tak Naik

×

Harga Minyak Dunia Tembus 107 Dolar, Kementerian ESDM Pastikan BBM Subsidi tak Naik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Pertalite. (net)
Ilustrasi Pertalite. (net)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, seperti Pertalite dan Biosolar, tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026 meskipun harga minyak dunia menembus 107 dolar AS per barel.

Wakil Menteri ESDM Yuliot mengatakan pemerintah akan mempertahankan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun.

“Kalau untuk Pertalite, yang disampaikan sama Pak Menteri (ESDM Bahlil Lahadalia), sampai dengan akhir tahun kita mempertahankan ini tidak ada kenaikan untuk Pertalite, untuk BBM bersubsidi,” ujar Yuliot saat ditemui setelah acara ziarah di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Selasa.

Sementara itu, harga BBM nonsubsidi akan mengalami penyesuaian karena mengikuti harga pasar.

Yuliot menjelaskan penyesuaian harga BBM nonsubsidi akan mempertimbangkan rata-rata harga minyak dunia dalam periode satu bulan.

Baca Juga  Refarming Pita Frekuensi 2,3 GHz Tuntas, Menteri Johnny: Tingkatkan Kualitas Layanan di 9 Klaster

“Jadi ini kami melihat rata-rata dalam satu bulan itu kira-kira berapa, penyesuaiannya kira-kira berapa,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kenaikan harga minyak dunia yang dipicu konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Yuliot mengungkapkan harga minyak dunia sempat menyentuh 107 dolar AS per barel pada akhir September 2026.

Harga tersebut menunjukkan tren kenaikan setelah sebelumnya sempat melandai pada Juni-Juli.

Sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa ketika masih menjabat sebagai Menteri Keuangan menjamin defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali hingga akhir tahun dengan asumsi makro rata-rata harga patokan minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 100 dolar AS per barel.

Berdasarkan perhitungan Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti, rata-rata ICP periode Januari-September mencapai sekitar 90,6 dolar AS per barel.

Baca Juga  Rupiah Melemah dan Harga Minyak Naik, Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi

Di tengah gejolak geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak dunia, Yuliot mengatakan pemerintah akan mempercepat eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi (migas).

Pemerintah, kata dia, telah memetakan sejumlah lapangan migas dengan potensi produksi sekitar 2.500-3.000 barel per hari. Pengembangan lapangan tersebut akan digenjot pada 2027 dan 2028.

Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung pencapaian target produksi minyak 1 juta barel per hari pada 2029-2030 sekaligus mewujudkan swasembada energi nasional.

“Eksplorasi dan eksploitasi ini kami akan genjot pada tahun 2027 dan 2028 sehingga target kita 1 juta barel itu bisa tercapai,” kata Yuliot. (rdr/ant)