BISNIS

Rupiah Melemah dan Harga Minyak Naik, Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi

×

Rupiah Melemah dan Harga Minyak Naik, Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi

Sebarkan artikel ini
Pengisian BBM bersubsidi di salah satu SPBU (ANTARA/HO Pertamina)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah belum akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar meskipun harga minyak mentah Indonesia mengalami kenaikan dan nilai tukar rupiah melemah.

“Tidak akan naik. Insyaallah, ya, doanya, tidak akan kita naikkan (harga BBM subsidi),” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa.

Bahlil menjelaskan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sejak Januari 2026 masih berada di bawah 100 dolar AS per barel sehingga harga BBM subsidi dinilai tetap aman.

“Rata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80–81 dolar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dolar AS,” ujarnya.

Baca Juga  Bahlil: Pemerintah Impor Minyak Rusia Lewat Skema G2G untuk Perkuat Cadangan Energi

Ia pun menegaskan harga BBM subsidi diperkirakan tetap stabil hingga akhir 2026.

“Insyaallah sampai akhir tahun,” ucap Bahlil.

Kementerian ESDM sebelumnya menetapkan rata-rata ICP April 2026 sebesar 117,31 dolar AS per barel. Angka tersebut naik 15,05 dolar AS dibandingkan Maret 2026 yang tercatat sebesar 102,26 dolar AS per barel.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan kenaikan harga minyak mentah dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik yang meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dunia, terutama di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz.

Selain faktor geopolitik, pertumbuhan ekonomi China pada triwulan I 2026 yang mencapai 5 persen secara tahunan turut memberikan sentimen positif terhadap permintaan minyak global.

Baca Juga  Rupiah Melemah ke Rp17.859 per Dolar AS

Meski demikian, Laode menilai masih ada sejumlah faktor yang berpotensi menahan kenaikan harga minyak dunia, di antaranya proyeksi penurunan permintaan minyak global pada triwulan II 2026 sebesar 5 juta barel per hari secara tahunan serta peluang terbukanya kembali jalur diplomasi damai antara Iran dan Amerika Serikat. (rdr/ant)