BERITA

Kemenhut: Hotspot Karhutla Turun dari 559 jadi 365 Titik

×

Kemenhut: Hotspot Karhutla Turun dari 559 jadi 365 Titik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi penanganan karhutla. (Foto; Ist)

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melaporkan jumlah titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional turun menjadi 365 titik hingga Senin (28/9), dari sebelumnya 559 titik pada Minggu (27/9).

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan penurunan tersebut menjadi perkembangan positif, meskipun kondisi di setiap wilayah berbeda.

“Penurunan secara nasional menjadi perkembangan positif, namun dinamika di setiap wilayah berbeda. Dari enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, Sumatera Selatan mencatat jumlah hotspot high confidence tertinggi, sementara Kalimantan Tengah mengalami penurunan cukup signifikan,” kata Ristianto dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Baca Juga  Kemenhut Siapkan Sanksi Berlapis untuk Korporasi Penyebab Karhutla

Berdasarkan data Kemenhut, hingga pukul 21.00 WIB pada Senin (28/9), Sumatera Selatan mencatat 96 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence), Kalimantan Tengah 37 titik, Jambi 25 titik, dan Kalimantan Selatan empat titik.

Sementara itu, Kalimantan Barat dan Riau tidak mencatat adanya hotspot high confidence.

Secara keseluruhan, jumlah hotspot high confidence di enam provinsi prioritas tersebut turun dari 204 menjadi 162 titik.

Meski terjadi penurunan, penguatan operasi tetap diarahkan ke wilayah yang menunjukkan peningkatan maupun masih memiliki aktivitas hotspot tinggi, khususnya Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.

Kemenhut menjelaskan hotspot bukan merupakan jumlah kejadian kebakaran, melainkan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.

Baca Juga  63,53 Hektare Lahan Terbakar di Siak, BPBD Tetapkan Siaga Darurat Karhutla

Penanganan karhutla masih terus dilakukan dengan pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara. Jumlah tersebut terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk water bombing.

“Perhatian khusus tetap diberikan pada kawasan gambut. Api pada lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api di atas permukaan telah terlihat padam. Karena itu, proses pembasahan dan pendinginan harus terus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman,” ujar Ristianto. (rdr/ant)