INTERNASIONAL

Gizi Buruk Akut Melanda Afghanistan, 3,7 Juta Anak Terdampak

×

Gizi Buruk Akut Melanda Afghanistan, 3,7 Juta Anak Terdampak

Sebarkan artikel ini
Para pengungsi Afghanistan terlihat di sebuah kamp pengungsi di titik penyeberangan perbatasan Torkham di Nangarhar, Afghanistan, Kamis (18/6/2026). ANTARA/Xinhua/Saifurahman Safi/aa.

JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Sekitar 3,7 juta anak di Afghanistan mengalami wasting atau gizi buruk akut, termasuk sekitar satu juta anak yang mengalami malnutrisi akut berat yang mengancam jiwa, menurut UNICEF pada Selasa (25/8).

UNICEF menyebut krisis tersebut paling banyak berdampak pada anak-anak usia dini. Hampir 40 persen anak yang dirawat di rumah sakit akibat gizi buruk berat disertai komplikasi medis merupakan bayi berusia di bawah enam bulan. Sementara itu, anak berusia di bawah dua tahun mencakup 83 persen kasus malnutrisi akut berat.

Perwakilan UNICEF di Afghanistan Tajudeen Oyewale mengatakan lebih dari 500.000 anak telah mendapatkan perawatan sejak awal tahun karena gizi buruk sedang berisiko tinggi dan gizi buruk berat.

Jumlah kasus malnutrisi akut berat yang disertai komplikasi medis juga meningkat sekitar sepertiga, dari 6.000 kasus pada Juli 2025 menjadi 8.000 kasus pada Juli 2026.

“Di sejumlah wilayah Afghanistan bagian selatan, beberapa rumah sakit kini menangani tiga atau empat anak yang mengalami malnutrisi berat untuk setiap tempat tidur yang tersedia,” kata Oyewale.

Baca Juga  Pengamat: Pembatasan Medsos Anak Harus Dibarengi Pengawasan Ketat

Kondisi tersebut terjadi ketika Afghanistan memasuki periode puncak kasus wasting. UNICEF sebelumnya melaporkan kasus wasting memburuk di 26 dari 34 provinsi Afghanistan dibandingkan 2025.

UNICEF juga mengatakan sekitar separuh anak di Afghanistan hidup dalam kondisi kemiskinan pangan anak yang parah. Kondisi tersebut ditandai dengan anak hanya mengonsumsi makanan dari paling banyak dua kelompok pangan setiap hari.

Anak-anak yang tinggal dalam rumah tangga dengan kerawanan pangan parah memiliki risiko hingga enam kali lebih tinggi mengalami gizi buruk akut selama periode puncak malnutrisi.

Oyewale mengatakan kekeringan yang berlangsung selama bertahun-tahun, hujan deras yang merusak, dan banjir bandang semakin memperburuk kondisi tersebut. Ketidakstabilan regional juga berdampak terhadap perdagangan lintas batas dan mata pencaharian masyarakat.

Sebanyak enam juta orang, lebih dari separuh di antaranya anak-anak, telah kembali ke Afghanistan sejak 2023. Menurut Oyewale, kondisi tersebut semakin meningkatkan tekanan terhadap lapangan pekerjaan, sumber daya rumah tangga, serta layanan kesehatan dan gizi.

Baca Juga  Wamenlu: Presiden Peru Janji Ungkap Penembakan Staf KBRI Lima

Di tengah meningkatnya kebutuhan, akses terhadap layanan gizi justru menghadapi keterbatasan pendanaan.

UNICEF mengatakan lebih dari 100 fasilitas yang menangani anak dengan gizi buruk akut telah ditutup sepanjang tahun ini dibandingkan 2025 akibat keterbatasan sumber daya.

Ratusan pusat layanan lain yang memberikan dukungan gizi kepada anak-anak serta ibu hamil dan menyusui yang mengalami malnutrisi juga kehilangan pendanaan.

Respons sektor gizi Afghanistan saat ini menghadapi kesenjangan pendanaan sebesar 57 persen. Sementara itu, program gizi UNICEF yang membutuhkan sekitar 180 juta dolar AS pada tahun ini baru memperoleh pendanaan sebesar 22 persen.

“Justru pada saat kebutuhan meningkat, layanan yang tersedia bagi anak-anak berkurang akibat pemotongan pendanaan,” kata Oyewale.

UNICEF menyerukan peningkatan pendanaan untuk mencegah semakin banyak anak mengalami malnutrisi, terutama dengan memperkuat layanan gizi bagi anak-anak usia dini. Badan PBB tersebut juga menekankan pentingnya intervensi lebih awal sebelum kondisi kekurangan pangan berkembang menjadi malnutrisi yang mengancam jiwa. (rdr/ant)