LUBUKBASUNG, RADARSUMBAR.COM – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat menyatakan dua Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang terlihat warga di Koto Tabang, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, diduga merupakan induk dan anak.
“Kami menyimpulkan satwa tersebut merupakan induk dan anak berdasarkan hasil identifikasi lapangan yang dilakukan bersama Patroli Anak Nagari (Pagari) dan pemerintah nagari setempat,” kata Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar Ade Putra di Lubuk Basung, Selasa.
Ade menjelaskan, petugas menemukan dua ukuran jejak kaki harimau saat melakukan identifikasi di lokasi, yakni sekitar 10 sentimeter dan enam sentimeter.
“Jejak kaki ditemukan di lahan perkebunan milik warga. Dari ukuran jejak tersebut, kami menduga satwa yang muncul merupakan induk dan anak,” ujarnya.
Menurut dia, kemunculan harimau di kawasan itu diduga berkaitan dengan aktivitas berburu mangsa berupa babi hutan. Di sekitar lokasi, petugas menemukan bangkai babi hutan yang diperkirakan telah mati sekitar dua hari.
“Kami menemukan bangkai babi hutan dan tidak jauh dari lokasi juga ditemukan jejak kaki harimau,” katanya.
BKSDA mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan tidak beraktivitas seorang diri di kebun, pergi ke kebun pada pukul 09.00 hingga 16.00 WIB, serta mengandangkan ternak guna mengurangi potensi konflik dengan satwa liar.
Sebelumnya, BKSDA Sumbar menerima laporan dari pemerintah nagari dan Polsek Palupuh terkait pertemuan warga bernama Mizwar (52) dengan dua individu Harimau Sumatra pada Senin (15/6) pagi.
Menindaklanjuti laporan tersebut, BKSDA bersama Tim Pagari langsung melakukan identifikasi lapangan melalui wawancara dengan saksi mata, pencarian jejak keberadaan satwa, seperti tapak kaki, cakaran dan kotoran, serta mengidentifikasi faktor yang menyebabkan kemunculan harimau di kawasan tersebut.
Selain itu, petugas juga melakukan patroli untuk menjamin keamanan warga di sekitar lokasi.
“Kami melakukan patroli siang dan malam di lokasi kemunculan satwa, termasuk di sekitar permukiman warga. Tidak tertutup kemungkinan upaya evakuasi akan dilakukan apabila diperlukan,” kata Ade Putra. (rdr/ant)











