JAKARTA, RADARSUMBAR.COM – Peneliti Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andrian Ramadhan, mengusulkan penerapan konsep ekonomi sirkular biru (blue circular economy) sebagai strategi meningkatkan nilai tambah ekonomi di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Menurut Andrian, konsep tersebut tidak hanya mampu mengurangi persoalan limbah di kawasan pesisir, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan.
“Bagaimana kita bisa menciptakan sistem yang terus berputar untuk meminimalkan limbah yang selama ini menjadi masalah dan tidak memiliki nilai ekonomi menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi,” kata Andrian dalam diskusi di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan kawasan pesisir dan sentra perikanan saat ini menghadapi persoalan lingkungan akibat penumpukan berbagai jenis limbah, mulai dari sampah plastik, limbah organik hasil perikanan, bubu yang rusak, hingga alat tangkap dan jaring yang ditinggalkan di laut.
Karena itu, menurutnya, modernisasi Program Kampung Nelayan Merah Putih seharusnya tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga mendorong pengembangan industri pengolahan limbah yang mampu memberikan nilai tambah bagi nelayan.
Salah satu contohnya adalah pemanfaatan cangkang rajungan menjadi produk turunan bernilai tinggi, seperti kitosan (chitosan), yang banyak digunakan di berbagai sektor industri.
Selain itu, limbah ikan yang tidak memenuhi standar mutu jual dapat diolah menjadi pakan ternak melalui fasilitas pengolahan terpadu di kawasan KNMP sehingga menciptakan sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Andrian juga menilai sampah plastik yang banyak mencemari pelabuhan dan kawasan pesisir berpotensi dikonversi menjadi bahan bakar alternatif bagi perahu nelayan melalui teknologi pirolisis.
Menurutnya, diversifikasi pendapatan melalui pengembangan industri pengolahan limbah merupakan strategi yang lebih berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan peningkatan hasil tangkapan ikan, terutama di tengah menurunnya ketersediaan sumber daya perikanan di sejumlah wilayah.
“Fokusnya adalah menciptakan peluang ekonomi baru yang sebelumnya belum ada, bukan hanya meningkatkan hasil tangkapan, karena di beberapa daerah sumber daya perikanan sudah semakin terbatas,” ujarnya. (rdr/ant)











