PENDIDIKAN

UNAND Kembangkan PATRIOT-Net, Teknologi Digital untuk Perkuat Mitigasi Bencana Sumbar

×

UNAND Kembangkan PATRIOT-Net, Teknologi Digital untuk Perkuat Mitigasi Bencana Sumbar

Sebarkan artikel ini
Tim peneliti Fakultas Teknik UNAND menggelar FGD bertajuk “Extended PATRIOT-Net: Pusat Kendali UNAND dan Digitalisasi Mitigasi Pasca Bencana Sumatera Barat”. (Foto: Ist)

PADANG, RADARSUMBAR.COM – Universitas Andalas (UNAND) mengembangkan teknologi digital untuk memperkuat sistem mitigasi dan penanggulangan bencana di Sumatera Barat. Teknologi tersebut bernama PATRIOT-Net, sistem berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk mendeteksi potensi bencana sekaligus membantu memulihkan jaringan komunikasi ketika terjadi bencana.

Pengembangan teknologi ini dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Extended PATRIOT-Net: Pusat Kendali UNAND dan Digitalisasi Mitigasi Pasca Bencana Sumatera Barat” yang digelar tim peneliti Fakultas Teknik UNAND di Hotel Truntum, Kota Padang, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Penelitian Skema Fundamental Regular yang didanai Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026. FGD dipimpin Ketua Tim Peneliti Dr. Eng. Junaidi, S.T., M.Eng., didampingi Dr. Eng. Ardhian Agung Yulianto.

Hadir sebagai pembicara utama Assoc. Prof. Dr. Eng. Khoirul Anwar, S.T., M.Eng., ilmuwan penemu konsep transformasi sinyal Fast Fourier Transform (FFT) yang menjadi konsep dasar jaringan 4G, 5G dan 6G. Khoirul juga merupakan pemegang paten PATRIOT-Net.

Dalam pemaparannya, Khoirul menjelaskan PATRIOT-Net merupakan singkatan dari Prevention and Recovery Networks for Indonesia Natural Disasters Based On The Internet of Things. Sistem ini dirancang untuk menangani dua kebutuhan utama dalam kebencanaan, yakni pencegahan dan pemulihan jaringan komunikasi.

“PATRIOT-Net memiliki sensor untuk empat jenis bencana,” jelasnya.

Empat jenis bencana yang dapat dipantau sistem tersebut adalah gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan banjir. Sensor ditempatkan di lokasi-lokasi rawan untuk mengirimkan data kebencanaan secara real-time, mulai dari curah hujan, pergeseran tanah hingga potensi tsunami. Data kemudian diteruskan ke aplikasi mobile dan web server yang terhubung dengan pemerintah.

Baca Juga  Keluarkan Izin Perceraian Dosen tanpa Mediasi, FTI Unand Dilaporkan ke Tiga Lembaga Ini

Teknologi ini tidak hanya bekerja sebelum bencana terjadi. PATRIOT-Net juga disiapkan untuk kondisi ketika bencana menyebabkan infrastruktur komunikasi mengalami kerusakan.

Apabila BTS tumbang atau jaringan komunikasi nirkabel lumpuh, sistem dapat mengerahkan Mobile Cognitive Radio Base Stations (MCRBS). Perangkat tersebut berfungsi sebagai BTS darurat untuk membantu memulihkan sinyal telekomunikasi di wilayah terdampak.

Tidak hanya memulihkan komunikasi, MCRBS juga dapat mendeteksi sinyal telepon seluler milik korban. Kemampuan ini diharapkan dapat membantu tim dalam proses pencarian dan evakuasi korban, terutama pada 72 jam pertama setelah bencana yang menjadi masa kritis atau golden time.

FGD tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak yang berkaitan langsung dengan penanggulangan bencana. Di antaranya perwakilan Diskominfo Kota Padang, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK), KOGAMI serta Disdikbud.

Dari pembahasan lintas sektor tersebut, muncul sejumlah rencana tindak lanjut. Salah satu yang menjadi perhatian adalah integrasi PATRIOT-Net dengan ekosistem “Padang Sigap” yang dikembangkan Pemerintah Kota Padang.

PATRIOT-Net diharapkan dapat terintegrasi dengan Padang Command Center (PCC) 112 serta aplikasi Padang Mobile yang telah diunduh lebih dari 50 ribu kali. Sistem kedaruratan 112 juga memiliki kemampuan beroperasi tanpa SIM Card.

Baca Juga  Kepala Sekolah di Sumbar Diminta Meningkatkan Mutu Pendidikan

Selain integrasi sistem, data yang dihasilkan PATRIOT-Net juga akan disinkronkan dengan sistem peringatan dini yang telah dimiliki sejumlah lembaga, seperti BWS, BMKG dan BNPB. Langkah tersebut diharapkan membuat data dan informasi kebencanaan lebih terintegrasi sehingga penentuan status kedaruratan dapat dilakukan secara terpusat.

Tim peneliti juga menyiapkan langkah hilirisasi agar PATRIOT-Net tidak berhenti sebagai produk penelitian. Mereka menargetkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen, mendaftarkan sistem ke E-Katalog Nasional serta mengikutsertakannya dalam ajang ASEAN-IVO 2027.

Di sisi lain, pengembangan Standard Operating Procedure (SOP) juga menjadi bagian penting dari tindak lanjut. SOP akan mengatur langkah masyarakat setelah alarm peringatan berbunyi. Sistem juga akan dilengkapi opsi jaringan tertutup atau meshtastic serta pengamanan fisik untuk mencegah sensor rusak maupun hilang di lapangan.

Dengan melibatkan pemerintah, lembaga teknis, akademisi dan masyarakat, UNAND berharap PATRIOT-Net dapat segera dikembangkan menjadi teknologi yang benar-benar siap digunakan. Inovasi tersebut ditargetkan menjadi salah satu solusi untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mempercepat penanganan bencana di Sumatera Barat.

“Harapannya, PATRIOT-Net tidak hanya menjadi produk riset, tetapi menjadi solusi nyata yang bisa diterapkan,” demikian semangat yang mengemuka dalam pengembangan teknologi tersebut. (rdr)