LUBUKBASUNG, RADARSUMBAR.COM – Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mencatat sebanyak lima ton ikan di keramba jaring apung (KJA) Danau Maninjau mati massal akibat kekurangan oksigen pada awal 2026.
“Kematian ikan tersebut terjadi pada 28 Januari 2026,” kata Kepala DKPP Agam, Rosva Deswira, didampingi Kepala Bidang Budidaya Doni Afdison di Lubuk Basung, Selasa.
Rosva menjelaskan, ikan yang mati berasal dari sejumlah petak keramba jaring apung milik petani di kawasan Danau Maninjau.
Menurut dia, kematian ikan dipicu berkurangnya kadar oksigen di perairan akibat fenomena pembalikan massa air (upwelling) dari dasar danau ke permukaan setelah wilayah tersebut diguyur hujan lebat disertai angin kencang.
“Akibat kejadian itu, petani mengalami kerugian sekitar Rp125 juta. Harga ikan di tingkat petani saat ini sekitar Rp25 ribu per kilogram,” ujarnya.
Ia menambahkan, kematian massal ikan di Danau Maninjau hampir terjadi setiap tahun.
Pada 2025, volume kematian ikan tercatat mencapai 1.445,93 ton dengan total kerugian sekitar Rp36,14 miliar. Sementara pada 2024, sebanyak 13 ton ikan mati dengan kerugian Rp325 juta.
Sedangkan pada 2023, kematian ikan mencapai 657 ton dengan nilai kerugian sekitar Rp16,42 miliar. Adapun pada 2022, sebanyak 350 ton ikan mati dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp8,75 miliar.
“Hampir setiap tahun terjadi kematian ikan di danau vulkanik ini. Kami telah menyurati para petani agar mengurangi kepadatan tebar benih, melakukan panen lebih awal, dan langkah antisipatif lainnya,” katanya.
Saat ini, jumlah keramba jaring apung di Danau Maninjau tercatat sebanyak 23.359 petak, dengan tingkat operasional sekitar 50 persen. (rdr/ant)












