BUKITTINGGI

Parade 1.700 Perempuan Berbusana Adat Minangkabau Meriahkan 100 Tahun Jam Gadang

×

Parade 1.700 Perempuan Berbusana Adat Minangkabau Meriahkan 100 Tahun Jam Gadang

Sebarkan artikel ini
Jam Gadang Kota Bukittinggi. (Antara/Al Fatah)

BUKITTINGGI, RADARSUMBAR.COM – Pemerintah Kota Bukittinggi bersama International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) menggelar Parade Perempuan Berbusana Adat Minangkabau dalam rangka memeriahkan peringatan 100 Tahun Jam Gadang, Sabtu (6/6).

Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut diikuti sekitar 1.700 perempuan dari berbagai daerah di Indonesia, melampaui target awal panitia sebanyak 1.500 peserta.

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dalam kegiatan yang tidak hanya menampilkan keindahan busana adat Minangkabau, tetapi juga mengangkat nilai budaya, etika, dan warisan leluhur.

Menurutnya, Bukittinggi merupakan kota kecil dengan sejarah besar, mulai dari pusat pemerintahan, pusat pendidikan, hingga pernah menjadi penyelamat Republik Indonesia melalui Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Baca Juga  Dapat DAK Rp25 Miliar untuk Kesehatan, Wako Bukittinggi: Terima Kasih Andre Rosiade

“Karena itu, budaya, sejarah, dan identitas daerah harus terus kita lestarikan dan wariskan kepada generasi mendatang,” kata Ramlan.

Ia menegaskan parade tersebut bukan sekadar ajang menampilkan pakaian adat, melainkan juga upaya mengingatkan generasi muda akan nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

“Melalui peringatan 100 Tahun Jam Gadang ini, kita ingin memperkenalkan Bukittinggi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga kepada dunia internasional,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Parade Perempuan Berbusana Adat Minangkabau, Suherni Syam, mengatakan tingginya minat masyarakat membuat jumlah peserta membeludak hingga mencapai 1.700 orang.

Menurut dia, peserta berasal dari berbagai daerah, di antaranya Batam, Palembang, Pekanbaru, dan sejumlah wilayah lainnya.

Baca Juga  PLN Bukittinggi Ingatkan Warga Bahaya Bermain Layang-layang Dekat Jaringan Listrik

“Baju Basiba dan ragam pakaian adat salingka nagari mengandung nilai kehormatan, kesantunan, serta menggambarkan peran perempuan Minang sebagai limpapeh rumah nan gadang. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa identitas budaya harus terus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi penerus,” kata Suherni. (rdr/ant)